Translate

Senin, 19 Mei 2014

PENGALAMAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA BERBAGAI RANAH (RANAH AMERIKA DAN RANAH EROPA)








BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Di era globalisasi ini memungkinkan manusia di berbagai penjuru dunia saling mengenal dan berhubungan dengan eratnya. Teknologi komunikasi yang semakin canggih membuat manusia yang ada di belahan dunia satu dan belahan dunia yang lain saling berhubungan tanpa harus bertatap muka. Hal ini menunjukkan bahwa di era globalisasi ini tidak ada batasan untuk bergaul dengan orang lain, baik dalam suatu negara maupun dengan negara lain. Oleh karena komunikasi semakin tak terbatas, kita harus memahami budaya luar agar komunikasi yang terjalin bisa efektif dan tidak ada kesalahpahaman budaya.
Sering kali kita orang Timur mempunyai perspektif yang negatif tentang budaya Barat. Di sinilah pentingnya komunikasi lintas budaya agar kita tahu bahwa setiap negara mempunyai perbedaan orientasi nilai budaya sehingga perbedaan-perbedaan orientasi ini tidak menimbulkan kesalahpahaman. Oleh karena itu, dalam makalah ini kami akan membahas mengenai pengalaman-pengalaman komunikasi lintas budaya, khususnya pada ranah Amerika dan ranah Eropa agar kita dapat mengetahui nilai-nilai yang ada di kedua ranah tersebut.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengalaman komunikasi lintas budaya pada ranah Amerika?
2.      Bagaimana pengalaman komunikasi lintas budaya pada ranah Eropa?

C.     Tujuan
1.      Untuk memaparkan pengalaman komunikasi lintas budaya pada ranah Amerika.
2.      Untuk memaparkan pengalaman komunikasi lintas budaya pada ranah Eropa.



BAB II
PEMBAHASAN

1.    Pengalaman Komunikasi Lintas Budaya pada Ranah Amerika
a.      MenjemputKenangan
Pengalamannaratorselamakuliah di Northen Illinois Universitymembuatkitamengetahuibahwagelarprofesor di Amerikatidaklebihdarisebutanuntukdosenuniversitas, yang biasanyabergelardoktor, yang terdiridaritigatingkatan: assistant professor, associate professor, dan full professorataudisebutprofessorsaja.Adapundosen yang tidakbergelardokter, master misalnya, biasanyadisebutinstructor.Maka di Amerika orang yang sudahtidaklagimengajar di universitastidakdisebut professor, meskipuniaseorangdoktor. Inidapatkitabandingkandengan di Indonesia.Orang yang bergelardoktordanmengajar di universitasbelumtentuseorangprofesor.Lucunyalagi, orang yang sudahmendapatgelarprofesordaripemerintah (inimerupakanhal yang mencengangkan orang Amerikakarena di negerikita  SKprofesorditandatanganiMenteriPendidikan), lazimnyamenggunakangelarituseumurhidupnya, meskipuniasudah lama meninggalkanuniversitas, dankinimenjadipejabatpemerintahmisalnya.
Di Amerika, dosenmelakukan sabbatical leavesetiapbeberapatahunsekali. Merekadapatmelakukanpenelitianselamabeberapabulan di wilayahlainataubahkan di luarnegeri, menulisbuku di rumah, ataubekerjadalambidangindustri. Hasilnya, lewatberbagaibacaanpengetahuandosenakandiperbarui, ataupengalamanmerekabertambah, danhalitudapatmemperkayaperkuliahanmereka di depanmahasiswa, dansekaligusmeningkatkansemangatmengajarsetelahmerekadiderakerutinanmengajar yang membosankan.

b.      Sisi-sisi Amerika yang Patut Ditiru
Ada dua aspek budaya Amerika yang konstruktif. Pertama, apresiasi terhadap jiwa orang lain. Misalnya, sering pengemudi berhenti di simpang jalan tanpa lalu-lintas dan mempersilahkan pejalan kaki untuk menyeberang.Para pengemudi di Amerika menghormati para pejalan kaki dan pejalan kaki lebih didahulukan daripada pengemudi. Bahkan, tidak ada pengemudi yang melanggar lampu lalu lintas.
Aspek kedua adalah penghargaan orang Amerika terhadap waktu. Apabila berjanji dengan orang Amerika harus  tepat waktu. Hanya bila acara informal seperti makan-makan di taman atau di rumah seseorang, kita dapat terlambat hingga setengah jam. Namun, untuk perjanjian antarpribadi, toleransinya hanya lima menit. Lebih dari itu, kita akan dianggap tidak dapat diandalkan. Kuliah atau seminar di kampus pun umumnya tepat waktu.  Memang terkadang ada juga yang terlambat, tetapi hanya lima hingga sepuluh menit.
Masih ada beberapa aspek lain kehidupan orang Amerika yang patut ditiru yaitu kecintaan dan kesungguhan mempelajari ilmu. Hal ini terbukti karena setengah pemenang hadiah Nobel berasal dari Amerika. Lalu, keterpercayaan mereka dalam memenuhi janji. Ini sesuai dengan ungkapan mereka yang berbunyi “you can keep my words”. Selain itu, orang Amerika sangat menjaga kebersihan lingkungan dan memelihara lingkungan alam mereka.Pelayanan terhadap masyarakat mudah. Tidak ada yang mengaharapkan imbalan atau uang pelicin dari masyarakat. Mereka pun sangat menaruh perhatian terhadap kesehatan. Contohnya, televisi Amerika tidak pernah mengiklankan rokok; juga tida ada billboard, spanduk, poster yang mempromosikan rokok. Beberapa satsiun televisi justru menyiarkan iklan layanan masyarakat yang mengimbau pemirsa untuk tidak merokok.

c.       Gedung Putih
Kota apa yang paling indah di Amerika? Maka salah satu kemungkinan jawabannya adalah Washington DC. Betapa tidak, di kota ini kita dapat menemukan berbagai bangunan yang indah sekalipun suah tua, monumen-monumen, taman-taman yang hijau, berbagai peninggalan sejarah Amerika, termasuk hasil-hasil karya seninya.
Di Wachington DC ini pula terdapat sebuah gedung yang sangat terkenal, yaitu Gedung Putih.  Gedung ini tepatnya terletak di 1600 Pennylvania Avenue terbuka untuk umum dari hari Selasa hingga Sabtu, resminya antara jam 10.00 sampai tengah hari. Oleh karena terbuka untu umum inilah makan Gedung Putih selain sebagai Private Home, juga merupakan Public House. Konon, lebih dari satu juta orang berkunjung ke Gedung Putih setiap tahunnya. Pada musim panas, terlebih lagi akahir pekan, bahkan orang harus anter untuk masuk. Sebelum masuk ke sana, setiap orang harus memperoleh  karcis masuk di tempat-tempat yang sudah disediakan, tak jauh dari gedung itu. Setelah karcis diperoleh, setiap pengunjung  harus bersabar menunggu giliran masuk. Ia harus berada dan antre dalam kelompoknya. Setiap kelompok akan dipersilahkan masuk pada waktu yang telah dijadwalkan, seperti yang tertera di karcis masuknya.
Setiap pengunjung yang melalui pemeriksaan yang ketat. Para petugas atau penjaga senantiasa siap dengan pistol di pinggang, untuk menghadapi segala kemungkinan yang tak diharapkan. Maklum, namanya juga memasuki gedung yang paling terhormat di Amerika, tempat di mana kebijakan-kebijakan nasional dan internasional diputuskan dan tamu-tamu maha penting diterima presiden dan Ibu Negara.
Peninjauan dimulai dengan memasuki lobi sebelah timur, kemudian menuju lima ruang kenegaraan, yaitu:
§  Ruang Timur (East Room). Ruang ini dipakai untuk konferensi pers kepresidenan, upacara penyumpahan pejabat-pejabat tinggi negara, konser-konser, dan tempat diskusi mengenai masalah-masalah nasional.
§  Ruang Hijau (Green Room), digunakan sebagai ruang duduk.
§  Ruang Biru (Blue Room), di mana presiden dan Ibu Negara secara resmi menerima para tamu.
§  Ruang Merah (Red Room), digunakan untuk resepsi-resepsi kecil.
§  Ruang Makan Kenegaraan (State Dining Room),  yang terkadang pula sebagai kantor dan ruang kabinet.

d.      Gamelan Bali di NIU
Tiga jenis musik Indonesia , yakni Gamelan Bali, Gondang Dua, dan Angklung diajarkan di Northern Illinois University, Amerika. Selain itu, bahasa Indonesia pun diajarkan di universitas itu.
Pengajaran kesenian dan bahasa Indonesia itu memang merupakan bagian dari studi tentang Asia Tenggara di NIU. Di perpustakaan pusat NIU, buku-buku tentang Asia Tenggara menempati bagian tersendiri. Hanya sayang, buku-buku tentang Indonesia tidak sebanyak  buku-buku tentang negera-negara Asia Tenggara lainnya. Oleh karena terdapat berbagai mata kuliah tentang Asia Tenggara yang diajarkan di beberapa jurusan NIU, maka dibentuklah Center for Southeast Asian Studies dengan maksud untuk mengkoordinasikan mata kuliah-mata kuliah itu serta mengembangkan program-program lainnya yang berhubungan dengan studi itu.
Gamelan pertama kalinya diajarkan pada tahun 50-an di UCLA (University of California Los Angeles). Dewasa ini terdapat lebih dari 100 perangkat gamelan di seluruh Amerika Serikat. Banyak Universitas di negeri ini yang mengajarkan gamelan (Bali, Jawa, dan Sunda), antara lain UCLA, University of Maryland, University of Wisconsin, San Diego State University di California, dan NIU.

e.       American Football
Bagi bangsa Amerika Serikat, sepak bola khas Amerika (American Football) adalah olahraga nomor satu yang mencerminkan ideologi mereka, yaitu memperoleh monopoli kontrol lewat penggunaan kekerasan. Sepak bola Amerika melibatkan banyak bentrokan fisik antarpemain. Maka, tak heran bila olahraga ini disebut  sebagai olahraga paling berbahaya selain tinju, dan sering memyebabkan pemainnya cedera. Meskipun namanya football, tapi olahraga ini dimainkan dengan tangan.
Olahraga ini digunakan sebagai hiburan karena  dapat menyebabkan  para penontonnya melupakan kesedihan serta masalah-masalah  hidupnya (meskipun sifatnya sementara) dan juga dapat membangkitkan emosi, harapan, serta fanatisme mereka.
Michael R. Real (1982) dalam Deddy Mulyana (2013) mengatakan bahwa olahraga football dapat disebut sebagai  aktivitas massa yang diritualkan atau sebagai bentuk kontemporer dari tontonan besar yang dimitoskan. Olahraga ini mencerminkan pula ideologi atau nilai  budaya Amerika, yakni kapitalisme, karena di dalam pertandingannya terlihat kekerasan dan teknik memperoleh monopoli kontrol atas properti perolehan ekonomi individu-individu dalam konteks nasionalistik dan hiburan.

f.       Moralitasdi Amerika
Di Amerika, anak yang sudah berkeluarga harus hidup terpisah dari orangtua mereka. Orangtua mereka yang sudah tua dan hidup sendiri itu dikirimkan ke rumah-rumah jompo. Ini kerap sekali terjadi. Padahal, di Indonesia apabila mengirimkan orangtua ke rumah jompo merupakan perbuatan kejam dan tidak bisa diterima. Di daerah pedesaan khususnya, keluarga bisa terdiri dari beberapa generasi, di mana dalam satu rumah ada kakek-nenek, selain orangtua kita sendiri. Jadi, orangtua tidak dibiarkan hidup sendiri tanpa kasih sayang dari anak-anaknya. Di Amerika sendiri, seorang anak tega menitipkan orangtuanya ke rumah jompo karena tidak ingin repot mengurus orangtuanya. Jadi, orangtua mereka dibiarkan sendiri pada masa tuanya. Meskipun mereka sebenarnya tahu bahwa orangtua mereka tidak menginginkan tinggal di rumah jompo.penggunaan orangtua inilah salah satu krisis moral peradaban Barat yang maju.
Di Amerika juga sangat bebas. Terutama dalam hal berpakaian. Wanita Amerika berpakaian sangat terbuka. Mereka selalu menampilkan kecantikan wajah, kemolekan tubuh, pakaian, dan sebagainya. Berbeda dengan di Indonesia yang sangat memperhatikan cara berpakaian mereka. Orang Indonesia sangat jarang berpakaian terbuka, karena dianggap tidak sopan. Inilah yang membedakan budaya Barat dan budaya Timur.


2. Pengalaman Komunikasi Lintas Budaya pada Ranah Eropa
a.      Dari Brussels ke Paris
Kita sering mendengar stereotip bahwa orang Perancis itu tidak ramah dan tidak mau berbicara dalam bahasa Inggris meskipun mereka mampu. Padahal, ketika narator bertemu dengan orang Perancis ternyata ia sangat ramah dan bahasa Inggrisnya bagus. Kemampuan kita dalam berbahasa pribumi memengaruhi kesan kita atas keramahan mereka. Misalnya saja, orang yang lebih mampu berbahasa Perancis  ketika di Paris akan menganggap orang Perancis lebih ramah daripada orang yang tidak mampu berbahasa Perancis.
Di antara semua bangsa Eropa, kecualiInggris, Belandaadalahbangsa yang paling mampuberbahasaInggris. Sebagaibangsaberwilayahkecil, BelandamungkinsadarakanpentingnyabahasaInggrisuntukmembinahubungandenganbangsa-bangsalain,sementarajermandanPerancis, karenawilayahmereka yang besardankekuatanekonomidanteknologimereka, mungkinmerekamerasabahwabangsalainlah yang harusmemahamibahasamereka.
Orang Inggriscenderungmemperlakukan orang lain lebih formal dalamsituasikerjadaripada orang Amerikaatau orang Australia, sedangkan orang Peranciscenderunglebih formal daripada orang Belgiaatau orang Kanada-Perancis.
Bangsa-bangsaEropajugatidaksamadalammemperlakukanwaktu.Orang-orang Eropa Selatan (Italia, Yunani, Spanyol, Portugal), sepertibudayaTimur, tidakterlaluketatdalampenganturanwaktu. Pun, orang Rusiatidaksuka tempo bisnis Barat yang cepatatausikapbahwawaktuadalahuang.Merekamenggunakan tempo yang lebihlambat demi keuntunganmereka, terutamadalamperundinganbisnisdanpergaulan.

b.      Refleksi dari Paris
Bonjour” itulah sapaan orang Perancis saat kita bertemu dengan mereka. Sapaan itu mencerminkan keramahan orang Perancis di satu sisi. Di sisi lain ada stereotip bahwa bangsa Perancis sofinistik: terlalu bangga dengan negara dan budaya mereka, sehingga mereka tidak mau belajar bahasa lain, termasuk bahasa Inggris. Namun, kini orang Perancis lebih terbuka terhadap bangsa lain dan merasakan pentingnya bahasa Inggris untuk pergaulan, terutama dalam bisnis.
Salah satu keunggulan Paris adalah nuansa seninya. Sepanjang sejarah Perancis memang kaya dengan tokoh kelas dunia terutama seniman: Claude Debussy yang komposer; Emile Zola, Albert Camus, Madame de la Fayette, dan Jean Paul Sartre yang novelis; Claude Monet, Pierre Auguste Renoir, Paul Gauguin, dan Vincent van Gogh yang pelukis. Banyak ilmuwan  dan pemikir kelas dunia pun berasal dari Perancis, seperti Emile Durkheim, Jacques Derrida, dan Michel Foucault.
Hubungan sosial di Perancis tampaknya lebih ekspresif daripada di Jerman atau di Amerika. Orang Perancis pun sangat romantis. Ketika sesama kawan atau kerabat bertemu, baik sesama jenis ataupun beda jenis, mereka pun mengadu kedua pipi, sering dua atau tiga kali, berbeda dengan orang Jerman yang lebih senang berjabatan tangan.
Orang Perancis—seperti orang Spanyol, Portugis, dan Yunani—jarang makan tergesa-gesa, karena mereka menganggap makan siang bersifat sosial, sedangkan orang Amerika dan orang Inggris biasa menyantap makanan praktis, seperti  sandwich atau burger, di kantor atau di kantin.
Karakter Perancis adalah perpaduan serasi intelektualitas dan cita rasa seni. Ilmu pengetahuan dan pekerjaan sedemikian terspesialisasikan termasuk bidang kebersihan. Misalnya, di Perancis ada tukang menyedot kotoran anjing. Tak mengherankan jika setiap sudut Paris tampak bersih.
Rasa tanggung jawab orang Perancis sangat tinggi. Misalnya saja ada pohon keropos yang tumbang dan menewaskan seorang warga, maka wali kotanya harus bertanggung jawab atas kecelakaan itu. Kalau ada jalan yang berlubang dan merusakkan mobil, warga bisa mengadu kepada pemerintah. Jalan berlubang tersebut akan diperbaiki hari itu juga.
Selain rasa tanggung jawabnya yang tinggi, rasa malu orang Perancis pun tinggi. Salah satu contohnya yaitu Herve Gaymard, Menteri Keuangan Perancis mengundurkan diri 25 Februari 2005 setelah dikritik publik karena menggunakan dana untuk menyewa apartemen mewah.
Lalu lintas di Perancis sangat tertib. Setaip jam pergi dan pulang kerja, jalanan padat tetapi para pengemudi tetap tertib. Kendaraan-kendaraan terus bergerak, tidak macet. Mereka mengatur diri sendiri. Tida ada yang menyerobot, sumpah serapah, atau klakson yang dibunyikan. Di jalan tol di luar kota tidak ada yang menyalip dari sebelah kir atau mengambil bahu jalan. Di dalam atau di luar kota tidak ada yang membuang sampah dari kendaraan.

c.       Panduan Buang Hajat pun Sangat Rinci
Ada banyak stereotip tentang negara Inggris, Perancis, Jerman, dan Amerika. Misalnya, orang Inggris cenderung bersifat kolonialis; orang Perancis begitu romantis; orang Jerman karakternya cermat, teliti, dan terperinci.
Namun, sebuah stereotip belum tentu benar. Hanya saja, stereotip tentang orang Jerman yang benar. Mereka begitu cermat, teliti, dan terperinci. Orang Jerman tidak suka dengan wacana (baik ucapan maupun tulisan, termasuk iklan), yang berbunga-bunga atau terlalu artistik, apaplagi yang memanipulasi. Iklan-iklan surat kabar di Jerman selalu padat dengan fakta dan rincian, sehingga kesannnya bertele-tele.
Sedemikian teliti dan rinci pembicaraan atau arahan orang Jerman, sehingga hal itu nyaris menjengkelkan bagi orang yang belum terbiasa. Misalnya di WC yang terdapat di asrama untuk mahasiswa (asing). Di sana ditemukan instruksi dalam bahasa Inggris yang artinya sebagai berikut:
Perhatian! Anda memasuki ruang berbahaya yang terkontaminasi. Hati-hatilah menggunakan WC ini. Sangat penting untuk mengikuti aturan kesehatan:
1)        Masukilah WC.
2)        Buka pintu kakus (toilet).
3)        Buka tutup kloset.
4)        Duduklah dan lakukan pekerjaan Anda.\berdirilah dar tempat duduk.
5)        Berdirilah dari tempat duduk.
6)        Gunakan kertas toilet sebagai pembersih.
7)        Tekanlah tombol penampung air bersih.
8)        Gunakan sikat kloset untuk membersihkan bercak.
9)        Katupkan tutup kloset.
10)    Tinggalkan WC dalam keadaan bersih.
Dan pastikan menghindari masalah.

Ketelitian orang Jerman tentu saja bukan sekedar wacana. Tampaknya kecermatan dan ketelitian telah mendarah daging dalam jiwa orang Jerman. Tidak mengherankan bahwa barang-barang yang mereka produksi, termasuk mobil Mercedes Benz dan BMW terkenal sebagai mobil yang sempurna, dengan peralatan yang rinci dana aman berkat kelengkapan alat yang terpasang pada kendaraan tersebut. Lebih dari itu, orang  Jerman juga menekankan pemeliharaan yang cermat atas produk-produk yang mereka hasilkan. Mereka sangat membenci kesembronoan. Orang Jerman  lebih ketat dalam memperlakukan waktu dibandingkan orang Amerika, Australia, dan Inggris. Mereka taat aturan. Tidak ada yang melanggar lalu-lintas.

d.      Orang Jerman, Disiplin atau Kaku?
Di Jerman, segala macam kendaraan mengambil jalur kanan, seperti di beberapa negara Eropa lainnya, termasuk Be;landa, Denmark, dan Perancis. Sistem berlalu lintas di Jerman juga sama dengan di Amerika, dan berbeda dengan di Australia, Inggris dan Indonesia mengambil jalur kiri.
Mengenai kedisiplinan atau kekakuan orang Jerman, tampaknya tergantung dari sudut pada mana kita menilainya. Jerman menekankan komunikasi yang rinci, lugas, terus terang, dan tepat. Berbeda dengan bangsa Timur yang komunikasinya samar, tidak langsung, berbelit-belit, dan tidak tentu ujung-pangkalnya. Budaya Jerman sarat dengan spesifikasi, rincian, jadwal, dan ketepatan waktu dengan mengabaikan konteks.
Begitu pula dengan ekspresi untuk mengatakan I love you dalam bahasa Jerman, yakni hanya ada satu “ich liebe dich”, sedangkan dalam bahasa Perancis terdapat beberapa ekspresi, seperti  Je t’aime dan Je t’adore.
Di Jerman, tata-cara makan pun harus tertib. Misalnya, letak alat-alat makan dan posisi nampannya harus sedemikian rupa, seperti yang ada di display. Mangkuk atau gelas di sebelah kiri, piring di tengah, dan sendok, garpu, serta pisau di sebelah kanan.Selain itu, orang Jerman selalu tepat waktu dan taat aturan serta selalu membudayakan antre.

e.       Komunikasi Nonverbal Orang Jerman
Menarik bahwa kekhasan setiap bangsa Eropa  itu bisa dilihat dari komunikasi nonverbal mereka. Komunikasi tanpa kata-kata ini terdiri dari banyak aspek, seperti bahasa tubuh, sentuhan, penggunaan ruang, paralinguistik (nada suara, intonasi, kecepatan bicara, volume suara, dsb.), bau-bauan, artefak (benda), dan penggunaan waktu.
Orang Jerman sering sekali berjabat tangan. Kecuali berjabat tangan, umunya orang Jerman, baik pria maupun wanita tidak memegang atau menyentuh sesama jenis karena akan disangka gay atau lesbian.
Seperti di banyak negara lain, acungan jempol berarti bagus, tetapi di Jerman hal itu dapat juga berarti satu. Untuk menunjukkan istimewa (excellent), yang lebih daripada sekadar bagus, terkadang orang Jerman menggunakan isyarat yang sama dengan isyarat “oke” Amerika, yakni dengan mempertemukan ujung jempol dan telunjuk (membentuk lingkaran) dengan membiarkan ketiga jari lainnya berdiri.Namun, sebagai catatan, isyarat “excellent” Jerman ini harus hati-hati digunakan di negara lain. Di Jepang dan Filipina, misalnya, isyarat ini berarti uang. Boleh jadi isyarat Anda ditafsirkan meminta uang. Di Perancis Selatan isyarat itu berarti nol atau tak ada. Di Paris berarti “Kamu tidak Berharga”. Bahkan di Yunani isyarat itu berarti “ajakan seksual”.
Untuk menunjukkan bahwa seseorang itu sinting, orang Jerman akan menyentuhkan ujung telunjuk kanan di kening sebelah kanan atau dengan menggoyang-goyangkan telapak tangan di depan wajah sendiri.
Isyarat Jerman yang lebih khas adalah mengetuk-ngetuk meja dengan semua jari yang dikepalkan, dimaksudkan untuk mengaplus orang.

f.       Menatap Orang Belanda dari Dekat
Dewasa ini Belanda adalah salah satu bangsa paling lembut atau bangsa feminin di dunia. Sebagai bangsa feminin, maka pria-pria Belanda diterrima dalam dalam peran-peran yang di negara lain dianggap feminin, seperti guru SD, perawat, dan bapak rumah tangga (wanita yang pergi bekerja). Di Belanda, prestasi diukur berdasarkan lingkungan kehidupan dan hubungan manusia, bukan berdasarkan kekuasaan dan harta kekayaan. Maka di Belanda tidak ada pemujaan berlebihan terhadapp kaum selebritis. Orang-orang kaya pun enggan memiliki rumah mewah untuk menunjukkan status dan kelebihan mereka.
Belanda menekankan kesederajatan. Jarak kekuasaan yang tipis ini di Belanda ditandai dengan populernya penggunaan sepeda ontel. Bukan hanya dosen dan mahasiswa, bahkan oara manajer, direktur, dan pejabat pun sering menggunakan sepeda ontel. Setidaknya mereka menggunakan kendaraan itu pulang pergi dari rumah ke stasiun kereta. Apabila Anda pergi ke stasiun kereta api Amsterdam, Leiden, atau Den Haag, Anda akan menyaksikan kendaraan yang paling banyak diparkir di sana justru sepeda biasa, bukan mobil.
Akan halnya di Indonesia yang berbudaya maskulian, penggunaan sepeda memang menurunkan status pemakainya. Jangankan direktur atau profesor, mahasiswa pun merasa gengsinya akan tururn kalau ia memakai sepeda ontel ke kampusnya.

g.      Di Italia Tukang Sapu pun Ganteng
Di Italia terdapat banyak pria ganteng. Tidak hanya eksekutif berdasi, tukang sapu pun ganteng. Di Italia pun kaya akan isyarat-isyarat nonverbal. Misalnya gerakan tangan. Orang Italia bebas bergerak ke mana saja dan bebas menggerakkan seluruh  anggota badan.
Nilai-nilai budaya yang melekat pada orang Italia adalah loyalitas, kewibawaan, pragmatisme, aliansi, dan karisma. Semua nilai itu positif. Apabila berbicara dengan orang Italia, hindari membicarakan topik tentang mafia karena akan menyinggung perasaan mereka dan memancing perdebatan yang tak ada ujungnya.
Saat menyapa orang lain, apalagi atasan, orang Italia cenderung formal. Misalnya menggunakan gelar kalau mereka mempunya gelar. Orang Italia juga terbiasa dengan jabat tangan. Lalu, mereka juga sangat memperhatikan busana yang akan mereka pakai. Beberapa topik yang sensitif bila berbicara dengan orang Italia selain mafia yaitu agama, politik, dan perbedaan antara Italia Utara dan Italia Selatan.
Orang italia adalah pemberi hadiah yang murah hati. Jika Anda memberikan bunga, jumlah ganjil dapat diterima, tetapi jangan angka 13 karena itu bermakna kesialan. Disarankan agar tidak membungkus kado dengan warna hitam atau mengikatnya dengan pita keemasan karena itu tanda dukacita.
Kontas dengan komunikasi verbal, komunikasi nonverbal orang Italia cenderung informal. Mereka memberi isyarat dengan seluruh lengannya dari bahu ke bawah. Bagi orang Italia, menggerakkan telunjuk dekat bibir berarti makanan itu enak atau wanita itu cantik. Meletakkan tangan kiri di lengan kanan berarti orang yang bersangkutan sedang marah. Untuk menunjukkan keramahaman, seorang pria memegang bahu pria di hadapannya. Menarik kulit ke bawah mata kanan dengan telunjuk berarti suatu persetujuan telah tercapai. Lalu, lapar dilambangkan dengan gerakan tangan menyentuh perut dengan sisi telapak tangan.












  
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan:
Sering kali kita orang Timur mempunyai perspektif yang negatif tentang budaya Barat. Di sinilah pentingnya komunikasi lintas budaya agar kita tahu bahwa setiap negara mempunyai perbedaan orientasi nilai budaya sehingga perbedaan-perbedaan orientasi ini tidak menimbulkan kesalahpahaman.Apalagi di era globalisasiini, semuaserbacanggihsehinggamemungkinkankomunikasidengan orang dariluarnegeri.Komunikasiinidiharapkanbisaefektif.Agar komunikasibisaefektif, maka yang haruskitapelajariadalahbudayamereka.
SetelahmembacabukuKomunikasiLintasBudayakaranganDeddyMulyana, makaadabeberapahal yang dapatkitaambilsebagaihalpentingdalammempelajarikomunikasilintasbudaya.Setiapranahmempunyainilaidanorientasi yang berbeda-beda, baikituranahAmerikamaupunranahEropa.Setiapnilaidanorientasiinitelahmelekatdalamdirimerekasepertihalnyadengankita orang Indonesia, sehinggaapa pun nilaitersebuthendaknyakitahargai.


 

DaftarPustaka

Mulyana, Deddy. 2010. KomunikasiLintasBudaya. Bandung: PT RemajaRosdakarya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar