BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Di
era globalisasi ini memungkinkan manusia di berbagai penjuru dunia saling
mengenal dan berhubungan dengan eratnya. Teknologi komunikasi yang semakin
canggih membuat manusia yang ada di belahan dunia satu dan belahan dunia yang
lain saling berhubungan tanpa harus bertatap muka. Hal ini menunjukkan bahwa di
era globalisasi ini tidak ada batasan untuk bergaul dengan orang lain, baik
dalam suatu negara maupun dengan negara lain.
Oleh
karena komunikasi semakin tak terbatas, kita harus memahami budaya luar agar
komunikasi yang terjalin bisa efektif dan tidak ada kesalahpahaman budaya.
Sering
kali kita orang Timur
mempunyai perspektif yang negatif tentang budaya Barat. Di sinilah pentingnya komunikasi
lintas budaya agar kita tahu bahwa setiap negara mempunyai perbedaan orientasi
nilai budaya sehingga perbedaan-perbedaan orientasi ini tidak menimbulkan
kesalahpahaman. Oleh karena itu, dalam makalah ini kami akan membahas mengenai
pengalaman-pengalaman komunikasi lintas budaya, khususnya pada ranah Amerika
dan ranah Eropa agar kita dapat mengetahui nilai-nilai yang ada di kedua ranah
tersebut.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
pengalaman komunikasi lintas budaya pada ranah Amerika?
2. Bagaimana
pengalaman komunikasi lintas budaya pada ranah Eropa?
C. Tujuan
1. Untuk
memaparkan pengalaman komunikasi lintas budaya pada ranah Amerika.
2. Untuk
memaparkan pengalaman komunikasi lintas budaya pada ranah Eropa.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengalaman Komunikasi
Lintas Budaya pada Ranah Amerika
a. MenjemputKenangan
Pengalamannaratorselamakuliah di Northen Illinois Universitymembuatkitamengetahuibahwagelarprofesor
di Amerikatidaklebihdarisebutanuntukdosenuniversitas, yang biasanyabergelardoktor,
yang terdiridaritigatingkatan: assistant
professor, associate professor, dan
full professorataudisebutprofessorsaja.Adapundosen
yang tidakbergelardokter, master misalnya, biasanyadisebutinstructor.Maka di Amerika orang yang sudahtidaklagimengajar di
universitastidakdisebut professor, meskipuniaseorangdoktor. Inidapatkitabandingkandengan di Indonesia.Orang
yang bergelardoktordanmengajar di universitasbelumtentuseorangprofesor.Lucunyalagi,
orang yang sudahmendapatgelarprofesordaripemerintah (inimerupakanhal yang
mencengangkan orang Amerikakarena di negerikita
SKprofesorditandatanganiMenteriPendidikan),
lazimnyamenggunakangelarituseumurhidupnya, meskipuniasudah lama
meninggalkanuniversitas, dankinimenjadipejabatpemerintahmisalnya.
Di Amerika, dosenmelakukan sabbatical leavesetiapbeberapatahunsekali.
Merekadapatmelakukanpenelitianselamabeberapabulan di wilayahlainataubahkan di
luarnegeri, menulisbuku di rumah, ataubekerjadalambidangindustri. Hasilnya,
lewatberbagaibacaanpengetahuandosenakandiperbarui,
ataupengalamanmerekabertambah, danhalitudapatmemperkayaperkuliahanmereka di
depanmahasiswa,
dansekaligusmeningkatkansemangatmengajarsetelahmerekadiderakerutinanmengajar
yang membosankan.
b. Sisi-sisi Amerika yang
Patut Ditiru
Ada
dua aspek budaya Amerika yang konstruktif. Pertama, apresiasi terhadap jiwa
orang lain. Misalnya, sering pengemudi berhenti di simpang jalan tanpa
lalu-lintas dan mempersilahkan pejalan kaki untuk menyeberang.Para pengemudi di
Amerika menghormati para pejalan kaki dan pejalan kaki lebih didahulukan
daripada pengemudi. Bahkan, tidak ada pengemudi yang melanggar lampu lalu
lintas.
Aspek
kedua adalah penghargaan orang Amerika terhadap waktu. Apabila berjanji dengan
orang Amerika harus tepat waktu. Hanya
bila acara informal seperti makan-makan di taman atau di rumah seseorang, kita
dapat terlambat hingga setengah jam. Namun, untuk perjanjian antarpribadi, toleransinya
hanya lima menit. Lebih dari itu, kita akan dianggap tidak dapat
diandalkan. Kuliah atau seminar di kampus pun umumnya tepat waktu. Memang terkadang ada juga yang terlambat,
tetapi hanya lima hingga sepuluh menit.
Masih
ada beberapa aspek lain kehidupan orang Amerika yang patut ditiru yaitu
kecintaan dan kesungguhan mempelajari ilmu. Hal ini terbukti karena setengah
pemenang hadiah Nobel berasal dari Amerika. Lalu, keterpercayaan mereka dalam
memenuhi janji. Ini sesuai dengan ungkapan mereka yang berbunyi “you can keep my words”. Selain itu,
orang Amerika sangat menjaga kebersihan lingkungan dan memelihara lingkungan
alam mereka.Pelayanan terhadap masyarakat mudah. Tidak ada yang mengaharapkan
imbalan atau uang pelicin dari masyarakat. Mereka pun sangat menaruh perhatian
terhadap kesehatan. Contohnya, televisi Amerika tidak pernah mengiklankan
rokok; juga tida ada billboard,
spanduk, poster yang mempromosikan rokok. Beberapa satsiun televisi justru
menyiarkan iklan layanan masyarakat yang mengimbau pemirsa untuk tidak merokok.
c. Gedung Putih
Kota
apa yang paling indah di Amerika? Maka salah satu kemungkinan jawabannya adalah
Washington DC. Betapa tidak, di kota ini kita dapat menemukan berbagai bangunan
yang indah sekalipun suah tua, monumen-monumen, taman-taman yang hijau,
berbagai peninggalan sejarah Amerika, termasuk hasil-hasil karya seninya.
Di
Wachington DC ini pula terdapat sebuah gedung yang sangat terkenal, yaitu
Gedung Putih. Gedung ini tepatnya
terletak di 1600 Pennylvania Avenue terbuka untuk umum dari hari Selasa hingga Sabtu,
resminya antara jam 10.00 sampai tengah hari. Oleh karena terbuka untu umum
inilah makan Gedung Putih selain sebagai Private
Home, juga merupakan Public House.
Konon, lebih dari satu juta orang berkunjung ke Gedung Putih setiap tahunnya.
Pada musim panas, terlebih lagi akahir pekan, bahkan orang harus anter untuk
masuk. Sebelum masuk ke sana, setiap orang harus memperoleh karcis masuk di tempat-tempat yang sudah
disediakan, tak jauh dari gedung itu. Setelah karcis diperoleh, setiap
pengunjung harus bersabar menunggu
giliran masuk. Ia harus berada dan antre dalam kelompoknya. Setiap kelompok
akan dipersilahkan masuk pada waktu yang telah dijadwalkan, seperti yang
tertera di karcis masuknya.
Setiap
pengunjung yang melalui pemeriksaan yang ketat. Para petugas atau penjaga
senantiasa siap dengan pistol di pinggang, untuk menghadapi segala kemungkinan
yang tak diharapkan. Maklum, namanya juga memasuki gedung yang paling terhormat
di Amerika, tempat di mana kebijakan-kebijakan nasional dan internasional diputuskan
dan tamu-tamu maha penting diterima presiden dan Ibu Negara.
Peninjauan
dimulai dengan memasuki lobi sebelah timur, kemudian menuju lima ruang
kenegaraan, yaitu:
§ Ruang
Timur (East Room). Ruang ini dipakai
untuk konferensi pers kepresidenan, upacara penyumpahan pejabat-pejabat tinggi
negara, konser-konser, dan tempat diskusi mengenai masalah-masalah nasional.
§ Ruang
Hijau (Green Room), digunakan sebagai
ruang duduk.
§ Ruang
Biru (Blue Room), di mana presiden
dan Ibu Negara secara resmi menerima para tamu.
§ Ruang
Merah (Red Room), digunakan untuk
resepsi-resepsi kecil.
§ Ruang
Makan Kenegaraan (State Dining Room), yang terkadang pula sebagai kantor dan ruang
kabinet.
d. Gamelan Bali di NIU
Tiga
jenis musik Indonesia , yakni Gamelan Bali, Gondang Dua, dan Angklung diajarkan
di Northern Illinois University,
Amerika. Selain itu, bahasa Indonesia pun diajarkan di universitas itu.
Pengajaran
kesenian dan bahasa Indonesia itu memang merupakan bagian dari studi tentang
Asia Tenggara di NIU. Di perpustakaan pusat NIU, buku-buku tentang Asia
Tenggara menempati bagian tersendiri. Hanya sayang, buku-buku tentang Indonesia
tidak sebanyak buku-buku tentang
negera-negara Asia Tenggara lainnya. Oleh karena terdapat berbagai mata kuliah
tentang Asia Tenggara yang diajarkan di beberapa jurusan NIU, maka dibentuklah Center for Southeast Asian Studies
dengan maksud untuk mengkoordinasikan mata kuliah-mata kuliah itu serta
mengembangkan program-program lainnya yang berhubungan dengan studi itu.
Gamelan
pertama kalinya diajarkan pada tahun 50-an di UCLA (University of California Los Angeles). Dewasa ini terdapat lebih
dari 100 perangkat gamelan di seluruh Amerika Serikat. Banyak Universitas di
negeri ini yang mengajarkan gamelan (Bali, Jawa, dan Sunda), antara lain UCLA, University
of Maryland, University of Wisconsin, San Diego State University di California,
dan NIU.
e. American Football
Bagi
bangsa Amerika Serikat, sepak bola khas Amerika (American Football) adalah olahraga nomor satu yang mencerminkan
ideologi mereka, yaitu memperoleh monopoli kontrol lewat penggunaan kekerasan.
Sepak bola Amerika melibatkan banyak bentrokan fisik antarpemain. Maka, tak
heran bila olahraga ini disebut sebagai
olahraga paling berbahaya selain tinju, dan sering memyebabkan pemainnya
cedera. Meskipun namanya football,
tapi olahraga ini dimainkan dengan tangan.
Olahraga
ini digunakan sebagai hiburan karena
dapat menyebabkan para
penontonnya melupakan kesedihan serta masalah-masalah hidupnya (meskipun sifatnya sementara) dan
juga dapat membangkitkan emosi, harapan, serta fanatisme mereka.
Michael
R. Real (1982) dalam Deddy Mulyana (2013) mengatakan bahwa olahraga football dapat disebut sebagai aktivitas massa yang diritualkan atau sebagai
bentuk kontemporer dari tontonan besar yang dimitoskan. Olahraga ini
mencerminkan pula ideologi atau nilai
budaya Amerika, yakni kapitalisme, karena di dalam pertandingannya
terlihat kekerasan dan teknik memperoleh monopoli kontrol atas properti
perolehan ekonomi individu-individu dalam konteks nasionalistik dan hiburan.
f. Moralitasdi Amerika
Di
Amerika, anak yang sudah berkeluarga harus hidup terpisah dari orangtua mereka.
Orangtua mereka yang sudah tua dan hidup sendiri itu dikirimkan ke rumah-rumah
jompo. Ini kerap sekali terjadi. Padahal, di Indonesia apabila mengirimkan
orangtua ke rumah jompo merupakan perbuatan kejam dan tidak bisa diterima. Di
daerah pedesaan khususnya, keluarga bisa terdiri dari beberapa generasi, di
mana dalam satu rumah ada kakek-nenek, selain orangtua kita sendiri. Jadi,
orangtua tidak dibiarkan hidup sendiri tanpa kasih sayang dari anak-anaknya. Di
Amerika sendiri, seorang anak tega menitipkan orangtuanya ke rumah jompo karena
tidak ingin repot mengurus orangtuanya. Jadi, orangtua mereka dibiarkan sendiri
pada masa tuanya. Meskipun mereka sebenarnya tahu bahwa orangtua mereka tidak
menginginkan tinggal di rumah jompo.penggunaan orangtua inilah salah satu
krisis moral peradaban Barat yang maju.
Di
Amerika juga sangat bebas. Terutama dalam hal berpakaian. Wanita Amerika
berpakaian sangat terbuka. Mereka selalu menampilkan kecantikan wajah,
kemolekan tubuh, pakaian, dan sebagainya. Berbeda dengan di Indonesia yang
sangat memperhatikan cara berpakaian mereka. Orang Indonesia sangat jarang
berpakaian terbuka, karena dianggap tidak sopan. Inilah yang membedakan budaya
Barat dan budaya Timur.
2. Pengalaman Komunikasi Lintas
Budaya pada Ranah Eropa
a. Dari Brussels ke Paris
Kita
sering mendengar stereotip bahwa orang Perancis itu tidak ramah dan tidak mau
berbicara dalam bahasa Inggris meskipun mereka mampu. Padahal, ketika narator
bertemu dengan orang Perancis ternyata ia sangat ramah dan bahasa Inggrisnya
bagus. Kemampuan kita dalam berbahasa pribumi memengaruhi kesan kita atas
keramahan mereka. Misalnya saja, orang yang lebih mampu berbahasa Perancis ketika di Paris akan menganggap orang
Perancis lebih ramah daripada orang yang tidak mampu berbahasa Perancis.
Di
antara semua bangsa Eropa,
kecualiInggris, Belandaadalahbangsa yang paling mampuberbahasaInggris.
Sebagaibangsaberwilayahkecil,
BelandamungkinsadarakanpentingnyabahasaInggrisuntukmembinahubungandenganbangsa-bangsalain,sementarajermandanPerancis,
karenawilayahmereka yang besardankekuatanekonomidanteknologimereka, mungkinmerekamerasabahwabangsalainlah
yang harusmemahamibahasamereka.
Orang Inggriscenderungmemperlakukan orang lain lebih
formal dalamsituasikerjadaripada orang Amerikaatau orang Australia, sedangkan
orang Peranciscenderunglebih formal daripada orang Belgiaatau orang Kanada-Perancis.
Bangsa-bangsaEropajugatidaksamadalammemperlakukanwaktu.Orang-orang
Eropa
Selatan (Italia, Yunani, Spanyol, Portugal), sepertibudayaTimur,
tidakterlaluketatdalampenganturanwaktu. Pun, orang Rusiatidaksuka tempo bisnis
Barat yang cepatatausikapbahwawaktuadalahuang.Merekamenggunakan tempo yang
lebihlambat demi keuntunganmereka, terutamadalamperundinganbisnisdanpergaulan.
b. Refleksi dari Paris
“Bonjour” itulah sapaan orang Perancis
saat kita bertemu dengan mereka. Sapaan itu mencerminkan keramahan orang
Perancis di satu sisi. Di sisi lain ada stereotip bahwa bangsa Perancis
sofinistik: terlalu bangga dengan negara dan budaya mereka, sehingga mereka
tidak mau belajar bahasa lain, termasuk bahasa Inggris. Namun, kini orang
Perancis lebih terbuka terhadap bangsa lain dan merasakan pentingnya bahasa
Inggris untuk pergaulan, terutama dalam bisnis.
Salah
satu keunggulan Paris adalah nuansa seninya. Sepanjang sejarah Perancis memang
kaya dengan tokoh kelas dunia terutama seniman: Claude Debussy yang komposer;
Emile Zola, Albert Camus, Madame de la Fayette, dan Jean Paul Sartre yang
novelis; Claude Monet, Pierre Auguste Renoir, Paul Gauguin, dan Vincent van
Gogh yang pelukis. Banyak ilmuwan dan
pemikir kelas dunia pun berasal dari Perancis, seperti Emile Durkheim, Jacques
Derrida, dan Michel Foucault.
Hubungan
sosial di Perancis tampaknya lebih ekspresif daripada di Jerman atau di
Amerika. Orang Perancis pun sangat romantis. Ketika sesama kawan atau kerabat
bertemu, baik sesama jenis ataupun beda jenis, mereka pun mengadu kedua pipi,
sering dua atau tiga kali, berbeda dengan orang Jerman yang lebih senang
berjabatan tangan.
Orang
Perancis—seperti orang Spanyol, Portugis, dan Yunani—jarang makan tergesa-gesa,
karena mereka menganggap makan siang bersifat sosial, sedangkan orang Amerika
dan orang Inggris biasa menyantap makanan praktis, seperti sandwich atau burger, di
kantor atau di kantin.
Karakter
Perancis adalah perpaduan serasi intelektualitas dan cita rasa seni. Ilmu
pengetahuan dan pekerjaan sedemikian terspesialisasikan termasuk bidang
kebersihan. Misalnya, di Perancis ada tukang menyedot kotoran anjing. Tak
mengherankan jika setiap sudut Paris tampak bersih.
Rasa
tanggung jawab orang Perancis sangat tinggi. Misalnya saja ada pohon keropos
yang tumbang dan menewaskan seorang warga, maka wali kotanya harus bertanggung
jawab atas kecelakaan itu. Kalau ada jalan yang berlubang dan merusakkan mobil,
warga bisa mengadu kepada pemerintah. Jalan berlubang tersebut akan diperbaiki
hari itu juga.
Selain
rasa tanggung jawabnya yang tinggi, rasa malu orang Perancis pun tinggi. Salah
satu contohnya yaitu Herve Gaymard, Menteri Keuangan Perancis mengundurkan diri
25 Februari 2005 setelah dikritik publik karena menggunakan dana untuk menyewa
apartemen mewah.
Lalu
lintas di Perancis sangat tertib. Setaip jam pergi dan pulang kerja, jalanan
padat tetapi para pengemudi tetap tertib. Kendaraan-kendaraan terus bergerak,
tidak macet. Mereka mengatur diri sendiri. Tida ada yang menyerobot, sumpah
serapah, atau klakson yang dibunyikan. Di jalan tol di luar kota tidak ada yang
menyalip dari sebelah kir atau mengambil bahu jalan. Di dalam atau di luar kota
tidak ada yang membuang sampah dari kendaraan.
c. Panduan Buang Hajat pun
Sangat Rinci
Ada
banyak stereotip tentang negara Inggris, Perancis, Jerman, dan Amerika.
Misalnya, orang Inggris cenderung bersifat kolonialis; orang Perancis begitu
romantis; orang Jerman karakternya cermat, teliti, dan terperinci.
Namun,
sebuah stereotip belum tentu benar. Hanya saja, stereotip tentang orang Jerman
yang benar. Mereka begitu cermat, teliti, dan terperinci. Orang Jerman tidak
suka dengan wacana (baik ucapan maupun tulisan, termasuk iklan), yang
berbunga-bunga atau terlalu artistik, apaplagi yang memanipulasi. Iklan-iklan
surat kabar di Jerman selalu padat dengan fakta dan rincian, sehingga kesannnya
bertele-tele.
Sedemikian
teliti dan rinci pembicaraan atau arahan orang Jerman, sehingga hal itu nyaris
menjengkelkan bagi orang yang belum terbiasa. Misalnya di WC yang terdapat di
asrama untuk mahasiswa (asing). Di sana ditemukan instruksi dalam bahasa
Inggris yang artinya sebagai berikut:
Perhatian!
Anda memasuki ruang berbahaya yang terkontaminasi. Hati-hatilah menggunakan WC
ini. Sangat penting untuk mengikuti aturan kesehatan:
1)
Masukilah WC.
2)
Buka pintu kakus
(toilet).
3)
Buka tutup kloset.
4)
Duduklah dan lakukan
pekerjaan Anda.\berdirilah dar tempat duduk.
5)
Berdirilah dari tempat
duduk.
6)
Gunakan kertas toilet
sebagai pembersih.
7)
Tekanlah tombol
penampung air bersih.
8)
Gunakan sikat kloset
untuk membersihkan bercak.
9)
Katupkan tutup kloset.
10)
Tinggalkan WC dalam
keadaan bersih.
Dan
pastikan menghindari masalah.
Ketelitian
orang Jerman tentu saja bukan sekedar wacana. Tampaknya kecermatan dan
ketelitian telah mendarah daging dalam jiwa orang Jerman. Tidak mengherankan
bahwa barang-barang yang mereka produksi, termasuk mobil Mercedes Benz dan BMW
terkenal sebagai mobil yang sempurna, dengan peralatan yang rinci dana aman
berkat kelengkapan alat yang terpasang pada kendaraan tersebut. Lebih dari itu,
orang Jerman juga menekankan
pemeliharaan yang cermat atas produk-produk yang mereka hasilkan. Mereka sangat
membenci kesembronoan. Orang Jerman
lebih ketat dalam memperlakukan waktu dibandingkan orang Amerika,
Australia, dan Inggris. Mereka taat aturan. Tidak ada yang melanggar
lalu-lintas.
d. Orang Jerman, Disiplin
atau Kaku?
Di
Jerman, segala macam kendaraan mengambil jalur kanan, seperti di beberapa
negara Eropa lainnya, termasuk Be;landa, Denmark, dan Perancis. Sistem berlalu
lintas di Jerman juga sama dengan di Amerika, dan berbeda dengan di Australia,
Inggris dan Indonesia mengambil jalur kiri.
Mengenai
kedisiplinan atau kekakuan orang Jerman, tampaknya tergantung dari sudut pada
mana kita menilainya. Jerman menekankan komunikasi yang rinci, lugas, terus
terang, dan tepat. Berbeda dengan bangsa Timur yang komunikasinya samar, tidak
langsung, berbelit-belit, dan tidak tentu ujung-pangkalnya. Budaya Jerman sarat
dengan spesifikasi, rincian, jadwal, dan ketepatan waktu dengan mengabaikan
konteks.
Begitu
pula dengan ekspresi untuk mengatakan I
love you dalam bahasa Jerman, yakni hanya ada satu “ich liebe dich”, sedangkan dalam bahasa Perancis terdapat beberapa
ekspresi, seperti Je t’aime dan Je t’adore.
Di
Jerman, tata-cara makan pun harus tertib. Misalnya, letak alat-alat makan dan
posisi nampannya harus sedemikian rupa, seperti yang ada di display. Mangkuk atau gelas di sebelah
kiri, piring di tengah, dan sendok, garpu, serta pisau di sebelah kanan.Selain
itu, orang Jerman selalu tepat waktu dan taat aturan serta selalu membudayakan
antre.
e. Komunikasi Nonverbal
Orang Jerman
Menarik
bahwa kekhasan setiap bangsa Eropa itu
bisa dilihat dari komunikasi nonverbal mereka. Komunikasi tanpa kata-kata ini
terdiri dari banyak aspek, seperti bahasa tubuh, sentuhan, penggunaan ruang,
paralinguistik (nada suara, intonasi, kecepatan bicara, volume suara, dsb.),
bau-bauan, artefak (benda), dan penggunaan waktu.
Orang
Jerman sering sekali berjabat tangan. Kecuali berjabat tangan, umunya orang
Jerman, baik pria maupun wanita tidak memegang atau menyentuh sesama jenis
karena akan disangka gay atau
lesbian.
Seperti
di banyak negara lain, acungan jempol berarti bagus, tetapi di Jerman hal itu
dapat juga berarti satu. Untuk menunjukkan istimewa (excellent), yang lebih daripada sekadar bagus, terkadang orang
Jerman menggunakan isyarat yang sama dengan isyarat “oke” Amerika, yakni dengan
mempertemukan ujung jempol dan telunjuk (membentuk lingkaran) dengan membiarkan
ketiga jari lainnya berdiri.Namun, sebagai catatan, isyarat “excellent” Jerman ini harus hati-hati
digunakan di negara lain. Di Jepang dan Filipina, misalnya, isyarat ini berarti
uang. Boleh jadi isyarat Anda ditafsirkan meminta uang. Di Perancis Selatan
isyarat itu berarti nol atau tak ada. Di Paris berarti “Kamu tidak Berharga”.
Bahkan di Yunani isyarat itu berarti “ajakan seksual”.
Untuk
menunjukkan bahwa seseorang itu sinting, orang Jerman akan menyentuhkan ujung
telunjuk kanan di kening sebelah kanan atau dengan menggoyang-goyangkan telapak
tangan di depan wajah sendiri.
Isyarat
Jerman yang lebih khas adalah mengetuk-ngetuk meja dengan semua jari yang
dikepalkan, dimaksudkan untuk mengaplus orang.
f. Menatap Orang Belanda
dari Dekat
Dewasa
ini Belanda adalah salah satu bangsa paling lembut atau bangsa feminin di
dunia. Sebagai bangsa feminin, maka pria-pria Belanda diterrima dalam dalam
peran-peran yang di negara lain dianggap feminin, seperti guru SD, perawat, dan
bapak rumah tangga (wanita yang pergi bekerja). Di Belanda, prestasi diukur berdasarkan
lingkungan kehidupan dan hubungan manusia, bukan berdasarkan kekuasaan dan
harta kekayaan. Maka di Belanda tidak ada pemujaan berlebihan terhadapp kaum
selebritis. Orang-orang kaya pun enggan memiliki rumah mewah untuk menunjukkan
status dan kelebihan mereka.
Belanda
menekankan kesederajatan. Jarak kekuasaan yang tipis ini di Belanda ditandai dengan
populernya penggunaan sepeda ontel. Bukan hanya dosen dan mahasiswa, bahkan
oara manajer, direktur, dan pejabat pun sering menggunakan sepeda ontel.
Setidaknya mereka menggunakan kendaraan itu pulang pergi dari rumah ke stasiun
kereta. Apabila Anda pergi ke stasiun kereta api Amsterdam, Leiden, atau Den
Haag, Anda akan menyaksikan kendaraan yang paling banyak diparkir di sana
justru sepeda biasa, bukan mobil.
Akan
halnya di Indonesia yang berbudaya maskulian, penggunaan sepeda memang
menurunkan status pemakainya. Jangankan direktur atau profesor, mahasiswa pun
merasa gengsinya akan tururn kalau ia memakai sepeda ontel ke kampusnya.
g. Di Italia Tukang Sapu
pun Ganteng
Di
Italia terdapat banyak pria ganteng. Tidak hanya eksekutif berdasi, tukang sapu
pun ganteng. Di Italia pun kaya akan isyarat-isyarat nonverbal. Misalnya
gerakan tangan. Orang Italia bebas bergerak ke mana saja dan bebas menggerakkan
seluruh anggota badan.
Nilai-nilai
budaya yang melekat pada orang Italia adalah loyalitas, kewibawaan, pragmatisme,
aliansi, dan karisma. Semua nilai itu positif. Apabila berbicara dengan orang
Italia, hindari membicarakan topik tentang mafia karena akan menyinggung
perasaan mereka dan memancing perdebatan yang tak ada ujungnya.
Saat
menyapa orang lain, apalagi atasan, orang Italia cenderung formal. Misalnya
menggunakan gelar kalau mereka mempunya gelar. Orang Italia juga terbiasa
dengan jabat tangan. Lalu, mereka juga sangat memperhatikan busana yang akan
mereka pakai. Beberapa topik yang sensitif bila berbicara dengan orang Italia
selain mafia yaitu agama, politik, dan perbedaan antara Italia Utara dan Italia
Selatan.
Orang
italia adalah pemberi hadiah yang murah hati. Jika Anda memberikan bunga,
jumlah ganjil dapat diterima, tetapi jangan angka 13 karena itu bermakna
kesialan. Disarankan agar tidak membungkus kado dengan warna hitam atau
mengikatnya dengan pita keemasan karena itu tanda dukacita.
Kontas
dengan komunikasi verbal, komunikasi nonverbal orang Italia cenderung informal.
Mereka memberi isyarat dengan seluruh lengannya dari bahu ke bawah. Bagi orang
Italia, menggerakkan telunjuk dekat bibir berarti makanan itu enak atau wanita
itu cantik. Meletakkan tangan kiri di lengan kanan berarti orang yang
bersangkutan sedang marah. Untuk menunjukkan keramahaman, seorang pria memegang
bahu pria di hadapannya. Menarik kulit ke bawah mata kanan dengan telunjuk
berarti suatu persetujuan telah tercapai. Lalu, lapar dilambangkan dengan
gerakan tangan menyentuh perut dengan sisi telapak tangan.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan:
Sering
kali kita orang Timur mempunyai perspektif yang negatif tentang budaya Barat.
Di sinilah pentingnya komunikasi lintas budaya agar kita tahu bahwa setiap
negara mempunyai perbedaan orientasi nilai budaya sehingga perbedaan-perbedaan
orientasi ini tidak menimbulkan kesalahpahaman.Apalagi di era globalisasiini,
semuaserbacanggihsehinggamemungkinkankomunikasidengan orang
dariluarnegeri.Komunikasiinidiharapkanbisaefektif.Agar komunikasibisaefektif,
maka yang haruskitapelajariadalahbudayamereka.
SetelahmembacabukuKomunikasiLintasBudayakaranganDeddyMulyana,
makaadabeberapahal yang
dapatkitaambilsebagaihalpentingdalammempelajarikomunikasilintasbudaya.Setiapranahmempunyainilaidanorientasi
yang berbeda-beda, baikituranahAmerikamaupunranahEropa.Setiapnilaidanorientasiinitelahmelekatdalamdirimerekasepertihalnyadengankita
orang Indonesia, sehinggaapa pun nilaitersebuthendaknyakitahargai.
DaftarPustaka
Mulyana,
Deddy. 2010. KomunikasiLintasBudaya.
Bandung: PT RemajaRosdakarya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar