Tugas
Sosiolinguistik
BAHASA IKLAN
“Bahasaa , Pelihan Kata (Diksi) Sturuktur
Kalimat
Oleh :
Nama: Andir Meku
Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia
Fakulta Ilmu Pendidikan
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
2013
Pengertian iklan
Kata iklan (advertising) berasal dari bahasa Yunani, yang artinya adalah menggiring orang pada gagasan. Adapun pengertian iklan secara komprehensif adalah semua bentuk aktivitas untuk menghadirkan dan mempromosikan ide, barang, atau jasa secara nonpersonal yang dibayar oleh sponsor tertentu.
Kata iklan (advertising) berasal dari bahasa Yunani, yang artinya adalah menggiring orang pada gagasan. Adapun pengertian iklan secara komprehensif adalah semua bentuk aktivitas untuk menghadirkan dan mempromosikan ide, barang, atau jasa secara nonpersonal yang dibayar oleh sponsor tertentu.
Secara umum bahasa Iklan
Secara umum, mum, iklan berwujud
penyajian informasi nonpersonal tentang suatu produk, merek, perusahaan, atau
took yang dijalankan dengan konpensasi biaya tertentu. Dengan demikian, iklan
merupakan suatu proses komunikasi yang bertujuan untuk membujuk dan menggiring
orang untuk menganbil tindakan yang menguntungkan bagi pihak pembuat iklan.
Iklan yang memiliki daya tarik termasuk iklan yang berguna untuk memancing tanggapan (respons) dari konsumen. Supaya berdaya tarik maka materi iklan diterjemahkan dalam eksekusi iklan. Dalam hal ini, kategori yang dipakai rasional dan emosional, atau kombinasi keduanya.
Sebuah produk atau jasa wajib memposisikan diri untuk menempatkan citra produk atau jasa ke dalam benak konsumen. Untuk itu, hal-hal spesifik yang perlu mendapatkan perhatian, antara lain, atribut, harga, kualitas, penggunaan, persepsi pemakai, dan kategori produk. Yang tak kalah pentingnya adalah mencari dan menempatkan posisi khusus dalam pikiran konsumen.
Bahasa dalam iklan dituntut untuk mampu menggugah, manarik, mengidentifikasi, manggalang kebersamaan, dan mengkomunikasikan pesan dengan koperatif kepada khalayak (Stan Rapp & Tom Collins, 1995: 152)
Iklan yang memiliki daya tarik termasuk iklan yang berguna untuk memancing tanggapan (respons) dari konsumen. Supaya berdaya tarik maka materi iklan diterjemahkan dalam eksekusi iklan. Dalam hal ini, kategori yang dipakai rasional dan emosional, atau kombinasi keduanya.
Sebuah produk atau jasa wajib memposisikan diri untuk menempatkan citra produk atau jasa ke dalam benak konsumen. Untuk itu, hal-hal spesifik yang perlu mendapatkan perhatian, antara lain, atribut, harga, kualitas, penggunaan, persepsi pemakai, dan kategori produk. Yang tak kalah pentingnya adalah mencari dan menempatkan posisi khusus dalam pikiran konsumen.
Bahasa dalam iklan dituntut untuk mampu menggugah, manarik, mengidentifikasi, manggalang kebersamaan, dan mengkomunikasikan pesan dengan koperatif kepada khalayak (Stan Rapp & Tom Collins, 1995: 152)
Struktur kata Iklan
Dalam penulisan iklan adalah:
1. Menggugah : mencermati kebutuhan konsumen, memberikan solusi, dan memberikan perhatian.
2. Informatif : kata-katanya harus jelas, besahabat, komunikatif, dan tidak bertele-tele apalagi sampai mengabaikan durasi penayangan.
3. Persuasif : rangkaian kalimatnya membuat target audience nyaman, senang, tentran, dan menghibur.
4. Bertenaga gerak : komposisi kata-katanya menghargai waktu selama masa penawaran/masa promosi berlangsung.
Untuk menyampaikan gagasan pikiran tersebut dalam suatu bahasa, seorang penulis iklan harus mengetahui aturan-bahasa tersebut, seperti tata bahasa, kaidah-kaidahnya, idiom-idiomnya, nuansa atau konotasi sebuah kata, dan sebagainya. Syarat ini adalah syarat yang mutlak.
1. Menggugah : mencermati kebutuhan konsumen, memberikan solusi, dan memberikan perhatian.
2. Informatif : kata-katanya harus jelas, besahabat, komunikatif, dan tidak bertele-tele apalagi sampai mengabaikan durasi penayangan.
3. Persuasif : rangkaian kalimatnya membuat target audience nyaman, senang, tentran, dan menghibur.
4. Bertenaga gerak : komposisi kata-katanya menghargai waktu selama masa penawaran/masa promosi berlangsung.
Untuk menyampaikan gagasan pikiran tersebut dalam suatu bahasa, seorang penulis iklan harus mengetahui aturan-bahasa tersebut, seperti tata bahasa, kaidah-kaidahnya, idiom-idiomnya, nuansa atau konotasi sebuah kata, dan sebagainya. Syarat ini adalah syarat yang mutlak.
Gaya bahasa dan jenis kata bahasa
iklan
Gaya bahasa dan jenis kata dalam iklan yang dibuat untuk surat kabar tentu berbeda dengan iklan yang dibuat untuk ditayangkan di radio atau televisi. Sebab surat kabarmemeningkan mata dan dapat diamati orang dengan lama. Semenrata radio mementingkan telinga dan televise memeningkan mata dan telinga. Kedua yang terakhir ini bersifat sekelebat.
Selain itu, bahasa yang dipakai dalam pembuatan iklan harus mampu mengarahkan target audience untuk membeli, menggunakan, atau beralih ke produk jasa yang diiklankan. Tentu saja, perlu juga diperhatikan apakah produk yang diiklankan baru ataukah sudah lama. Gaya dan jenis bahasa yang dipakai pun harus sesuai dengan target audience.
Dalam kaitan dengan kebahasaan, ternyata ada dua jenis bahasa yang harus dibedakan. Kedua jenis bahasa itu berkaitan dengan bahasa normatif dan bahasa deskriptif. Kedua jenis bahasa ini ternyata juga memiliki serbaneka laras bahasa komunikasi. Oleh karena itu, serbaneka laras bahasa komunikasi perlu mendapat perhatian, seperti laras jurnalistik, laras SMS (surat-menyurat singkat, seperti EGP: emang gue pikirin, KDL: kesian deh lo, BKT: bau ketek, dan !@*?(^^|$: bingung), laras iklan (aku dan kau suka dancow), laras prokem dan gaul (nyokap, bokap, dugem)dll.
Gaya bahasa dan jenis kata dalam iklan yang dibuat untuk surat kabar tentu berbeda dengan iklan yang dibuat untuk ditayangkan di radio atau televisi. Sebab surat kabarmemeningkan mata dan dapat diamati orang dengan lama. Semenrata radio mementingkan telinga dan televise memeningkan mata dan telinga. Kedua yang terakhir ini bersifat sekelebat.
Selain itu, bahasa yang dipakai dalam pembuatan iklan harus mampu mengarahkan target audience untuk membeli, menggunakan, atau beralih ke produk jasa yang diiklankan. Tentu saja, perlu juga diperhatikan apakah produk yang diiklankan baru ataukah sudah lama. Gaya dan jenis bahasa yang dipakai pun harus sesuai dengan target audience.
Dalam kaitan dengan kebahasaan, ternyata ada dua jenis bahasa yang harus dibedakan. Kedua jenis bahasa itu berkaitan dengan bahasa normatif dan bahasa deskriptif. Kedua jenis bahasa ini ternyata juga memiliki serbaneka laras bahasa komunikasi. Oleh karena itu, serbaneka laras bahasa komunikasi perlu mendapat perhatian, seperti laras jurnalistik, laras SMS (surat-menyurat singkat, seperti EGP: emang gue pikirin, KDL: kesian deh lo, BKT: bau ketek, dan !@*?(^^|$: bingung), laras iklan (aku dan kau suka dancow), laras prokem dan gaul (nyokap, bokap, dugem)dll.
pedoman kebahasaan Iklan
Di samping laras bahasa yang wajib mendapat perhatian, ada pedoman kebahasaan yang digunakan untuk bahasa iklan, seperti:
1. gampang dipahami konsumen;
2. sederhana bahasanya dan jernih pengutaraannya;
3. tanpa kalimat majemuk;
4. kalimatnya aktif, bukan kalimat pasif;
5. padat dan kuat bahasanya;
6. positif bahasanya, bukan bahasa negative;
Untuk menulis naskah dengan menggunakan bahasa Indonesia, mereka harus menguasai EYD. Agar maknanya dapat ditangkap oleg target audience. Bahasa mesti menyimpan makna ketika kita ungkapkan pada orang lain, agar mereka memahami apa yang kita ungkapkan tersebut. Bahasa yang informatif, menerangkan 5W+1H secara jelas dan singkat sesuai dengan hal yang akan di-iklankan nanti
Bahasa iklan memiliki prinsip
Pada umumnya bahasa iklan memiliki
prinsip sebagai berikut :
1. Iklan isi pernyataannya jujur, bertanggung jawab dan tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku.
2. Iklan isi pernyataannya jauh dari unsure menyinggung perasaan dan merendahkan martabat negara,agama, susila, adat, budaya, suku dan golongan.
3. Iklan isi pernyataannya menjiwai asas persaingan yang sehat.
1. Iklan isi pernyataannya jujur, bertanggung jawab dan tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku.
2. Iklan isi pernyataannya jauh dari unsure menyinggung perasaan dan merendahkan martabat negara,agama, susila, adat, budaya, suku dan golongan.
3. Iklan isi pernyataannya menjiwai asas persaingan yang sehat.
Bahasa iklan bersifat persuasif
Bahasa iklan bersifat
persuasif, selalu berusaha menggugah emosi pembaca atau pendengar.
Tujuannya bahasa iklan
Tujuannya
agar yang menjadi sasaran iklan (konsumen) melakukan sesuatu atau bertindak
sesuai dengan amanat iklan tersebut. Oleh karena itu, dalam bahasa iklan,
kata-kata yang digunakan dalam bentuk rayuan, anjuran atau ajakan yang dapat
menimbulkan rasa penasaran. Kemasan produknya dibuat menarik dan ditempatkan
secara tepat, niscaya iklan itu akan berhasil memengaruhi pembaca atau
pendengarnya.
Terkadang
bahasa iklan yang digunakan tidak bernalar atau tidak menggunakan bahasa
Indonesia yang benar. Cobalah Anda simak bahasa iklan di televisi, media cetak,
dan sebagainya. Dalam iklan di televisi saya pernah mendengar kalimat yang
dikatakan oleh model iklan sebuah produk obat tetes mata. Model tersebut
mengatakan “Mata merah hilang seketika”, dengan kata-kata itu saya berpikir
masa sih gara-gara memakai obat tetes mata kemudian mata yang berwarna merah
bisa hilang, berarti nanti tidak bisa melihat lagi karena matanya hilang dan
pasti tidak ada konsumen yang membeli produk obat tersebut. Akan tetapi, jika
yang dimaksudkan iklan tersebut adalah sakit mata sembuh dengan cepat atau
sakit mata hilang seketika, kalimat iklan seharusnya diubah menjadi: “Sakit
mata hilang seketika”.
Ada juga iklan produk detergen yang
menawarkan kemudahan pada saat konsumennya mencuci pakaian. Si model iklan
tersebut menyatakan produknya bisa mencuci sendiri. Wah, kalau diterjen
tersebut bisa mencuci sendiri, asyik dong, berarti konsumen tidak perlu mencuci
lagi karena kegiatan cuci-mencuci dilakukan oleh detergen tersebut. Ada juga
iklan produk susu yang menggunakan kalimat “Saya anak x (produk susu yang
diiklankan), begitupun dengan anakku”.
Kalimat tersebut tidak bernalar karena tidak mungkin susu
mempunyai anak. Seharusnya kalimat iklan itu diubah menjadi “Saya minum susu x,
begitupun dengan anakku” sehingga iklan tersebut menjadi lebih jelas dan
bernalar.
Dahulu juga pernah ada iklan minyak kayu putih yang
menggunakan kalimat “Buat anak kok coba-coba”. Kalimat tersebut menimbulkan
tafsiran ganda (ambigu) bagi orang yang membaca atau mendengarnya.Yang pertama orang bisa menafsirkan
“buat” dalam arti membuat sesuatu dan yang kedua artinya untuk. Dari kalimat
iklan tersebut sudah jelas bahwa “buat” yang dimaksud yaitu untuk, tidak
mungkin “buat” yang dimaksud yaitu membuat sesuatu. Perlu diketahui bahwa
setiap pemakaian bahasa harus dilihat juga konteksnya, maka tidak akan terjadi
kesalahpahaman di antara pemakai bahasa.
Iklan itu beraneka ragam jenisnya. Hampir setiap kebutuhan
barang dan jasa masyarakat diiklankan di media cetak ataupun elektronik.
Pemakaian bahasa iklan dalam bentuk-bentuk yang terkesan janggal dan tidak
bernalar seperti dalam contoh kalimat-kalimat iklan di atas perlu diperbaiki.
Akan tetapi, kita mungkin menerimanya sepanjang penggunaan kalimat iklan
tersebut bisa dipahami oleh masyarakat. Benar tidak?
KESIMPULAN
Bahasa iklan bersifat persuasif, selalu berusaha menggugah
emosi pembaca atau pendengar Kata iklan (advertising) berasal dari
bahasa Yunani, yang artinya adalah menggiring orang pada gagasan. Adapun
pengertian iklan secara komprehensif adalah semua bentuk aktivitas untuk
menghadirkan dan mempromosikan ide, barang, atau jasa secara nonpersonal yang
dibayar oleh sponsor tertentu.
Bahasa
iklan bjasa yang singkat dan padat namu
tidak mengikuti Ejaan Yang Di
sempurnaka (EYD) dan bahasa yang digunakan pun mudah di pahami oleh masyarakat
luas. Bahasanya tidak bertele-tele.
http://johnherf.wordpress.com/2008/04/16/bahasa-iklan-komunisuasif/
http://kuliahkomunikasi.blogspot.com/2008/03/belajar-iklan-bahasa-dalam-iklan.html
http://rhany333.wordpress.com/2010/03/10/iklan-bahasa-iklan-dan-bahasa-komunikasi/
http://tipspenulisanbahasaiklan.blogspot.com/
http://rubrikbahasa.wordpress.com/2011/09/07/bahasa-iklan/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar