Translate

Senin, 03 Maret 2014

TUGAS KELOMPOK



TUGAS PEMAHAMAN LINTAS BUDAYA

DISUSUN OLEH :

Septian Purnomo Aji 121224054
Yuhacim Titto 121224046
Debby Maharai 121224100
      Agatha Regina 121224110

PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA



BAB  I
Pendahuluan

1.1  latar belakang
Budaya adalah salah satu hal yang ada di sekitar  kehidupan kita dan setiap negara atau daerah memiliki sebuah budaya. Bila berbicara mengenai budaya biasanya kita selalu berpikir tentang cara berpakaian, kepercayaan, kebiasaan yang mereka praktikan. Setiap orang perlu menghormati budaya dari negara lain, budaya merupakan seuah karakter dari suatu negara. Dalam makalah ini kami akan membahas mengenai memahami berbedaan bahasa dari segi bahasa, kata-kata dan makna, nada suara, emosi dan kontak fisik, dampak waktu secara kultural, tempat, hubungan-hubungan kelas sosial, persepsi, siste kepercayaan, nilai dan sikap.
1.2  Rumusan masalah
1.      Bagaimana pengetahuan Antropologi dalam kehidupan memahami budaya?
2.      Apa saja unsur-unsur dalam budaya?
1.3  Tujuan
Mengetahui pengetahuan Antropologi dalam kehidupan memahami budaya
Mengetahun unsur-unsur dalam budaya





BAB II
Pembahasan

A.    Menerapkan Pengetahuan Antropologi
Hubungan antar dua budaya dijembatani oleh perilaku-perilaku komunikasi antar administratoryang mewakili suatu budaya dan orang-orang yang mewakili budaya lain.  Bila komunikasi mereka efektif, maka saling pengertian tumbuh yang diikuti dengan kerja sama. Bila komunikasi yang terjadi salah, maka tak ada pengetahuan tentang budaya dalam buku manapun yang yang dapat menjamin tindakan yang efektif.
Budaya dalam hal ini melukiskan kadar dan tipe kontak fisik yang dituntut oleh adat kebiasaan dan intensitas emosi yang menyertaiya. Budaya juga menentukan, apalkah suatu kontrak tertentu, harus pertama-tama di diskusikan dalam suatu pertemuan seharian penuh, yang mengikutkan empat atau lima orang dari setiap pihak dan mungkin dengan bantuan seorang pelayan yang membantu menyuguhkan sebuah kopi.
Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif, unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
B.     Bahasa
Bentuk yang paling nyata dalam komunikasi adalah bahasa. Secara sederhana bahasa dapat diartikan sebagai suatu sistem lamabang yang terorganisas, disepakati secara umum, dan merupakan hasil belajar yang digunakan untuk menyajikan pengalaman-pengalaman dalam  suatu komunitas geografis atau budaya. Ketidak mampuan kita memahami bahasa atau tidak bisa berbahasa secara baik dapat mengakibatkan kerusakan hubungan dengan relasi kita di seluruh dunia. Bahasa merupakan alat utama yang digunakan budaya untuk menyalurkan kepercayaan, nilai dan norna. Maka bahasa berfungsi sebagai suatu mekanisme untuk berkomunikasi dan sekaligus sebagai pedoman untuk melihat realitas sosial, bahasa mempengaruhi persepsi menyalurkan dan turut membentuk pikiran.
1.      Kata-kata dan makna
Mengena makna, Devito (1997:120), isyarta mempunyai kebebasan makna (arbitry); mereka tidak memiliki karakteristik atau sifat dari benda atau hal yang mereka gambarkan. Suatu kata memiliki arti atau makana yang mereka gambarkan karena kitalah yang secara bebas menentukan arti atau maknannya.
Dalam budaya lain kata-kata dan makna kata-kata tidak mempunyai hubungan langsung. Orang-orang mungkin memperhatikan makna kata-kata tertentu.
2.      Nada dan Suara
Manusia  berkomunikasi tidak dengan kata-kata saja. Nada suaranya, ekspresi wajahnya, gerak geriknya, semua itu mengandung makna yang perlu diperhitungkan, jadi, tidak hanya dapat membingungkan tetapi juga gerak gerik dan isyarat kultural. Anggukan bisa berarti negatif bagi orang lain.

C.      Kontak Fisik (Menyentuh atau Tidak Menyentuh)
Seberapa jauhkah kontak fisik sebaiknya dilakukan dalam percakapan sosial atau percakapan bisnis? Kontak fisik paling umum adalah berjabat tangan, dan dibandingkan dengan orang-orang Eropa dan Amerika, kita melakukannya lebih sedikit. Jabat tangan adalah bentuk sapaan atau cara menyatakan perpisahan yang paling impersonal. Di amerika Latin, cara yang lebih ramah adalah dengan meletakkan tangan di atas bahu orang ketika berjabat tangan. Sedangkan bagi orang Amerika Utara sulit menerima kontak fisik berupa meletakkan telapak tangan pada lengan semala percakapan. Bagi mereka cara ini dapat berarti isyarat yang tidak menyenangkan, mungkin semacam isyarat seksual yang menghambat komunikasinya.
Menurut Edward T Hall dalam Devito (1997:197), terdapat empat macam jarak yang menggambarkan macam hubungan yang diperbolehkan.
1.      Jarak pribadi (personal distance)
Daerah ini melindungi kita dari sentuhan orang lain, dalam fase dekat jarak pribadi ini antara 45 sampai 75 cm, dan fase jauh 75 sampai 120 cm.
2.      Jarak social (social distance)
 120 sampai 210 cm adalah jarak yang digunakan bila melakukan peremuan bisnis dan interaksi pada pertemuan bersifat social. Fase jauh 210 sampai 360 cm.
3.      Jarak public (public distance)
Fase dekat 360 sampai 450 cm pada jarak ini seseorang dapat mengambil tindakan defensive bila terancam. Fase jauh lebih dari 750 cm, kita melihat orang-orang tidak sebagai individu yang terpisah, melainkan sebagai bagian dari suatu kesatuan yang lengkap.
Meskipun demikian, terdapat budaya-budaya yang lebih membatasi kontak fisik daripada budaya Amerika utara. Seorang Amerrika di sebuah pesta cocktail di jawa ia telah melanggar batas-batas budaya setempat. Ia bermaksud mengembangkan hubungan bisnis dengan seorang Jawa terpandang. Ketika pesta berakhir, berakhir pula rencana yang member harapan itu, padahal ia sudah menunggu ertemuan kedua selama enam bulan. Akhirnya ia mengetahui lewat orang lain, bahwa di pesta itu ia telah meletakkan lengannya sesaat di atas bahu orang jJawa dan di hadapan orang-orang lain.

D. Dimensi Waktu
Ide-ide kita tentang waktu tertanam dalam diri kita sejak kecil. Bila gagasan-gagasan kita tentang waktu ini bertentangan denganperilaku orang lain, kita bereaksi dengan marah, tidak tahu apa sebabnya. Bagi orang-orang bisnis, konsep waktu yang basanya dilakukan adalah waktu untuk bertemu, berdiskusi, berkenalan, berkunjung, dan jadwal waktu (Mulyana & rahmat 2006:212).
Siapapun yang berpergian ke luar negeri dan berhubungan luas dengan orang-orang non-amerika, mengetahui bahwa ketepatan waktu ditafsirkan dengan berbagai cara. Ini adalah suatu hal yang perlu diingat. Contohnya bertemu sesuai dengan waktu yang telah dijanjikan.
Jadwal waktu, dalam konsep orang-orang amerika tanpa jadwal waktu, batas waktu akhir (deadline), prioritas-prioritas, ereka merasa bahwa Negara kita tidak dapat berjalan sama sekali. Hal ini sering banyak member kesulitan kepada mereka di banyak Negara. Dalam budaya kita terdapat beberapa sangksi bagi orang yang tidak menyelsaikan pekerjaan pada waktunya, dan juga imbalan-imbalan bagi orang yang pekerjaannya sesuai engan jadwal.
Orang-orang Timur Tengah merupakan contoh dalam kasus ini. Konsep kita tentang jadwal waktu bukanlah bagian dari kehidupan budaya orang Arab. Menurut budayanya, penetapan suatu deadline akan mennimbulkan emosional padanya. Setiap budaya memiliki cara-caranya sendiri untuk menekan orang agar menghasilkan sesuatu yang diinginkan.
E. Tempat
Ada pembatasan pembicaraan bisnis dan politik diberbabagai negeri. Di India misalnya, tidak diperkenankan membicarakan bisnis ketika sedang mengunjungi rumah seseorang. Apabila Anda melakukannya, akan kehilangan kesempatan untuk mengadakan hubungan hubungan bisnis yang memuaskan. Di Amerika latin juga banyak kalangan mahasiswa yang mengurangi pembicaraan mereka terhadap plitik. Seorang politikus yang berada di universitas juga menghindari dari topiknya membicarakan mengenai politik di universitas.
F. Pengaruh status atas Komuinikasi
Perbedaan status dan kelas sosial menyebabkan orang-orang yang berstatus berbeda sulit menyatakan opini secara bebas dan terus terang dalam diskusi dan perdebatan. Budaya Amerika latin menekankan pentingnya hubungan-hubungan sewcara harmonis, meskipun hubungan itu bersifat dangkal. Budaya Amerika Latin menekankan pentingnya penyelesaian perbedaan pendapat dengan tatap muka secara langsung. Di Amerika Latin, orang menyatakan sulit menyatakan perbedaan-perbedaan mereka. Status dan otoritas lebih ditekankan dari pada di Amrika Serikat. Status dan kelas sosial juga menentukan apakah suatu bisnis akan terjadi antara individu atau antar kelompok. Di Amerika Serikat jarang dijumpai seorang penjual menemui pelanggannya, namun di Jepang justru penting kunjungan dan pentingnya posisi orang itu ditentukan oleh siapa yang ia ajak ikut serta. Dalam sebuah universitas juga tidak jarang ditemukan seorang dosen membawa satu atau dua orang untuk membantunya dalam pekerjaanya. Apaibila tidak, orang mengira ia buka orang penting.
G. Persepsi
Persepsi adalah proses internal yang kita lakukan untuk memilih, mengevaluasi dan mengorganisasikan rangsangan dari lingkungan eksternal. Secara umum dipercaya bahwa orang-orang berperilaku sebagai hasil cari cara mereka mempersepsi dunia (lingkunganya) sedemikian rupa. Perilaku ini dipelajari sebagai hasil dari pengalaman budaya mereka. Artinya, kita merespon kepada stimulus sedemikian rupa, sesuai dengan budaya yang telah ajarkan kepada kita. Budaya menentukan kriteria mana yang penting ketika kita mempersepsi sesuatu.
Komunikasi antar budaya, dapat dipahami sebagai perbedaan budaya dalam mempersepsi objek-objek sosial dan kejadian-kejadian. Dalam komunikasi lointas budaya, mengharapkan banyak persamaan dalam pengalaman dan persepsi. Ada tiga unsur yang berpengaruh besar, terhadap makna yang dibangun dalam persepsi kita, sistem kepercayaan(belife), sistem nilai(value), sistem sikap (attitude), pandangan dunia (word view), dan organisasi sosial (social organization).
1.    Sistem Kepercayaan, Nilai dan Sikap
Kepercayaan melibatkan hubungan antara objek yang dipercaya dan karakteristik yang membedakannya. Dalam komunikasi antar budaya tidak ada hal yang benar atau salah sejauh hal-hal itu berhubungan dengan kepercayaan. Bila seseorang percaya bahwa hari sabtu kurang baik untuk melakukan sesuatu, kita dapat mengatakan bahwa itu salah, kita harus dapat mengenal dan menghadapi kepercayaan tersebut apabila kita akan melakukan komunikasi yang sukses dan memuaskan (Sihabudin, 1996:56).
Nilai adalah seperangkat aturan yang terorganisasikan untuk membuat pilihan-pilihan, dan mengurangi konflik dalam suatu masyarakat. Nilai-nilai memiliki aspek evaluatif dan sistem keercayaan, nilai dan sikap. Dimensi evalutif meliputi kualitas seperti, kemanfaatan, kabaikan estetika, kabutuhan, dan kesenangan.
Kepercayaan dan nilai memberikan kontribusi bagi pengembangan dan silap. Sikap sebagai suatu kecenderuangan yang diperoleh dengan belajar untuk merespons suatu objek secara konsisten. Sikap dipelajari melalui budaya, lingkungan kita membentuk sikap kita, kesikapan kita untuk merspons dan akhirnya perilaku kita.
2.    Pandangan Dunia
Pandangan dunia berkaitan dengan orientasi suatu buadaya terhadap hal-hal seperti Tuhan, kemanusiaan, alam semestan dan masalah-masalah filosofis lainnya yang berkenaan dengan makhluk. Oleh karena itu pandangan dunia begitu kompleks, kita sulit melihatnya dalam suatu interaksi antarbudaya. Pandangan dunia mempengaruhi kepercayaan nilai, sikap, penggunaan waktu dan tidak nyata, pandangan bidaya sangat mempengaruhi komunikasi antar budaya.
3.    Organisasi sosial
Keluarga dan sekolah merupakan dua unit sosial yang dominan dalam suatu budaya. Keluarga paling berperan dalam pengembangan anak selama periode awal. Keluarga juga yang membimbing anak dalam menggunakan bahasa, cara memperoleh kata hingga dialeg. Keluarga juga memberika persetujuan, dukungan, ganjaran dan hukuman yang mempengaruhi nilai-nilai yang anak kembangkan dan tujuan yang ingin dicapai. Sekolah memiliki tanggung jawab yang sangat besar mewariskan dan memelihara budaya. Sekolah memelihara budaya dengan memberitahu anggota-anggota budaya. Sekolah mungkin menekankan revolusi yang berlandaskan perdamaian atau kekerasan. Namun apapun yang dipelajari di sekolah sangat dipengaruhi oelh budaya ditempat sekolah itu berada.

       
 
Kesimpulan

Hubungan antar dua budaya dijembatani oleh perilaku-perilaku komunikasi antar administrator yang mewakili suatu budaya dan orang-orang yang mewakili budaya lain. Bila komunikasi mereka efektif, maka saling pengertian tumbuh yang diikuti dengan kerja sama. Bila komunikasi tersebut salah, maka tak ada yang dapat menjamin tindakan yang efektif. Inti penerapan pengetahuan antropologi harus berrada dalam proses komunikasi.
Aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Beberapa unsur sosio-budaya yang berhubungan dengan komunikasi antar budaya yaitu bahasa, kata-kata dan makna, nada suara, emosi dan kontak fisik, dampak waktu secara kultural, tempat, hubungan-hubungan kelas sosial, dan persepsi.


Sumber: Komunikasi Antar Budaya






Tidak ada komentar:

Posting Komentar