DISUSUN
OLEH :
Septian
Purnomo Aji 121224054
Yuhacim
Titto 121224046
Debby
Maharai 121224100
Agatha Regina 121224110
PENDIDIKAN
BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
BAB I
Pendahuluan
1.1 latar belakang
Budaya adalah salah
satu hal yang ada di sekitar kehidupan
kita dan setiap negara atau daerah memiliki sebuah budaya. Bila berbicara
mengenai budaya biasanya kita selalu berpikir tentang cara berpakaian,
kepercayaan, kebiasaan yang mereka praktikan. Setiap orang perlu menghormati
budaya dari negara lain, budaya merupakan seuah karakter dari suatu negara.
Dalam makalah ini kami akan membahas mengenai memahami berbedaan bahasa dari
segi bahasa, kata-kata dan makna, nada suara, emosi dan kontak fisik, dampak
waktu secara kultural, tempat, hubungan-hubungan kelas sosial, persepsi, siste
kepercayaan, nilai dan sikap.
1.2 Rumusan masalah
1.
Bagaimana pengetahuan
Antropologi dalam kehidupan memahami budaya?
2.
Apa saja unsur-unsur
dalam budaya?
1.3 Tujuan
Mengetahui pengetahuan
Antropologi dalam kehidupan memahami budaya
Mengetahun unsur-unsur
dalam budaya
BAB
II
Pembahasan
A. Menerapkan Pengetahuan
Antropologi
Hubungan
antar dua budaya dijembatani oleh perilaku-perilaku komunikasi antar
administratoryang mewakili suatu budaya dan orang-orang yang mewakili budaya
lain. Bila komunikasi mereka efektif,
maka saling pengertian tumbuh yang diikuti dengan kerja sama. Bila komunikasi
yang terjadi salah, maka tak ada pengetahuan tentang budaya dalam buku manapun
yang yang dapat menjamin tindakan yang efektif.
Budaya
dalam hal ini melukiskan kadar dan tipe kontak fisik yang dituntut oleh adat
kebiasaan dan intensitas emosi yang menyertaiya. Budaya juga menentukan,
apalkah suatu kontrak tertentu, harus pertama-tama di diskusikan dalam suatu
pertemuan seharian penuh, yang mengikutkan empat atau lima orang dari setiap
pihak dan mungkin dengan bantuan seorang pelayan yang membantu menyuguhkan
sebuah kopi.
Banyak
aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif, unsur-unsur sosio-budaya
ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
B.
Bahasa
Bentuk
yang paling nyata dalam komunikasi adalah bahasa. Secara sederhana bahasa dapat
diartikan sebagai suatu sistem lamabang yang terorganisas, disepakati secara
umum, dan merupakan hasil belajar yang digunakan untuk menyajikan
pengalaman-pengalaman dalam suatu
komunitas geografis atau budaya. Ketidak mampuan kita memahami bahasa atau
tidak bisa berbahasa secara baik dapat mengakibatkan kerusakan hubungan dengan
relasi kita di seluruh dunia. Bahasa merupakan alat utama yang digunakan budaya
untuk menyalurkan kepercayaan, nilai dan norna. Maka bahasa berfungsi sebagai
suatu mekanisme untuk berkomunikasi dan sekaligus sebagai pedoman untuk melihat
realitas sosial, bahasa mempengaruhi persepsi menyalurkan dan turut membentuk
pikiran.
1.
Kata-kata dan makna
Mengena makna, Devito
(1997:120), isyarta mempunyai kebebasan makna (arbitry); mereka tidak memiliki
karakteristik atau sifat dari benda atau hal yang mereka gambarkan. Suatu kata
memiliki arti atau makana yang mereka gambarkan karena kitalah yang secara
bebas menentukan arti atau maknannya.
Dalam budaya lain
kata-kata dan makna kata-kata tidak mempunyai hubungan langsung. Orang-orang
mungkin memperhatikan makna kata-kata tertentu.
2.
Nada dan Suara
Manusia berkomunikasi tidak dengan kata-kata saja.
Nada suaranya, ekspresi wajahnya, gerak geriknya, semua itu mengandung makna
yang perlu diperhitungkan, jadi, tidak hanya dapat membingungkan tetapi juga gerak
gerik dan isyarat kultural. Anggukan bisa berarti negatif bagi orang lain.
C.
Kontak Fisik (Menyentuh atau Tidak Menyentuh)
Seberapa
jauhkah kontak fisik sebaiknya dilakukan dalam percakapan sosial atau
percakapan bisnis? Kontak fisik paling umum adalah berjabat tangan, dan
dibandingkan dengan orang-orang Eropa dan Amerika, kita melakukannya lebih
sedikit. Jabat tangan adalah bentuk sapaan atau cara menyatakan perpisahan yang
paling impersonal. Di amerika Latin, cara yang lebih ramah adalah dengan
meletakkan tangan di atas bahu orang ketika berjabat tangan. Sedangkan bagi orang
Amerika Utara sulit menerima kontak fisik berupa meletakkan telapak tangan pada
lengan semala percakapan. Bagi mereka cara ini dapat berarti isyarat yang tidak
menyenangkan, mungkin semacam isyarat seksual yang menghambat komunikasinya.
Menurut
Edward T Hall dalam Devito (1997:197), terdapat empat macam jarak yang
menggambarkan macam hubungan yang diperbolehkan.
1.
Jarak pribadi (personal
distance)
Daerah ini melindungi kita dari sentuhan
orang lain, dalam fase dekat jarak pribadi ini antara 45 sampai 75 cm, dan fase
jauh 75 sampai 120 cm.
2.
Jarak social (social
distance)
120 sampai 210 cm adalah jarak yang digunakan
bila melakukan peremuan bisnis dan interaksi pada pertemuan bersifat social.
Fase jauh 210 sampai 360 cm.
3.
Jarak public (public
distance)
Fase dekat 360 sampai 450 cm pada jarak
ini seseorang dapat mengambil tindakan defensive bila terancam. Fase jauh lebih
dari 750 cm, kita melihat orang-orang tidak sebagai individu yang terpisah,
melainkan sebagai bagian dari suatu kesatuan yang lengkap.
Meskipun
demikian, terdapat budaya-budaya yang lebih membatasi kontak fisik daripada
budaya Amerika utara. Seorang Amerrika di sebuah pesta cocktail di jawa ia
telah melanggar batas-batas budaya setempat. Ia bermaksud mengembangkan
hubungan bisnis dengan seorang Jawa terpandang. Ketika pesta berakhir, berakhir
pula rencana yang member harapan itu, padahal ia sudah menunggu ertemuan kedua
selama enam bulan. Akhirnya ia mengetahui lewat orang lain, bahwa di pesta itu
ia telah meletakkan lengannya sesaat di atas bahu orang jJawa dan di hadapan
orang-orang lain.
D.
Dimensi Waktu
Ide-ide
kita tentang waktu tertanam dalam diri kita sejak kecil. Bila gagasan-gagasan
kita tentang waktu ini bertentangan denganperilaku orang lain, kita bereaksi
dengan marah, tidak tahu apa sebabnya. Bagi orang-orang bisnis, konsep waktu
yang basanya dilakukan adalah waktu untuk bertemu, berdiskusi, berkenalan,
berkunjung, dan jadwal waktu (Mulyana & rahmat 2006:212).
Siapapun
yang berpergian ke luar negeri dan berhubungan luas dengan orang-orang
non-amerika, mengetahui bahwa ketepatan waktu ditafsirkan dengan berbagai cara.
Ini adalah suatu hal yang perlu diingat. Contohnya bertemu sesuai dengan waktu
yang telah dijanjikan.
Jadwal
waktu, dalam konsep orang-orang amerika tanpa jadwal waktu, batas waktu akhir (deadline), prioritas-prioritas, ereka
merasa bahwa Negara kita tidak dapat berjalan sama sekali. Hal ini sering
banyak member kesulitan kepada mereka di banyak Negara. Dalam budaya kita
terdapat beberapa sangksi bagi orang yang tidak menyelsaikan pekerjaan pada
waktunya, dan juga imbalan-imbalan bagi orang yang pekerjaannya sesuai engan
jadwal.
Orang-orang
Timur Tengah merupakan contoh dalam kasus ini. Konsep kita tentang jadwal waktu
bukanlah bagian dari kehidupan budaya orang Arab. Menurut budayanya, penetapan
suatu deadline akan mennimbulkan
emosional padanya. Setiap budaya memiliki cara-caranya sendiri untuk menekan
orang agar menghasilkan sesuatu yang diinginkan.
E. Tempat
Ada
pembatasan pembicaraan bisnis dan politik diberbabagai negeri. Di India
misalnya, tidak diperkenankan membicarakan bisnis ketika sedang mengunjungi
rumah seseorang. Apabila Anda melakukannya, akan kehilangan kesempatan untuk
mengadakan hubungan hubungan bisnis yang memuaskan. Di Amerika latin juga
banyak kalangan mahasiswa yang mengurangi pembicaraan mereka terhadap plitik. Seorang
politikus yang berada di universitas juga menghindari dari topiknya
membicarakan mengenai politik di universitas.
F.
Pengaruh status atas Komuinikasi
Perbedaan
status dan kelas sosial menyebabkan orang-orang yang berstatus berbeda sulit
menyatakan opini secara bebas dan terus terang dalam diskusi dan perdebatan.
Budaya Amerika latin menekankan pentingnya hubungan-hubungan sewcara harmonis,
meskipun hubungan itu bersifat dangkal. Budaya Amerika Latin menekankan
pentingnya penyelesaian perbedaan pendapat dengan tatap muka secara langsung.
Di Amerika Latin, orang menyatakan sulit menyatakan perbedaan-perbedaan mereka.
Status dan otoritas lebih ditekankan dari pada di Amrika Serikat. Status dan
kelas sosial juga menentukan apakah suatu bisnis akan terjadi antara individu
atau antar kelompok. Di Amerika Serikat jarang dijumpai seorang penjual menemui
pelanggannya, namun di Jepang justru penting kunjungan
dan pentingnya posisi orang itu ditentukan oleh siapa yang ia ajak ikut serta.
Dalam sebuah universitas juga tidak jarang ditemukan seorang dosen membawa satu
atau dua orang untuk membantunya dalam pekerjaanya. Apaibila tidak, orang
mengira ia buka orang penting.
G.
Persepsi
Persepsi
adalah proses internal yang kita lakukan untuk memilih, mengevaluasi dan
mengorganisasikan rangsangan dari lingkungan eksternal. Secara umum dipercaya
bahwa orang-orang berperilaku sebagai hasil cari cara mereka mempersepsi dunia
(lingkunganya) sedemikian rupa. Perilaku ini dipelajari sebagai hasil dari
pengalaman budaya mereka. Artinya, kita merespon kepada stimulus sedemikian
rupa, sesuai dengan budaya yang telah ajarkan kepada kita. Budaya menentukan
kriteria mana yang penting ketika kita mempersepsi sesuatu.
Komunikasi
antar budaya, dapat dipahami sebagai perbedaan budaya dalam mempersepsi
objek-objek sosial dan kejadian-kejadian. Dalam komunikasi lointas budaya,
mengharapkan banyak persamaan dalam pengalaman dan persepsi. Ada tiga unsur
yang berpengaruh besar, terhadap makna yang dibangun dalam persepsi kita,
sistem kepercayaan(belife), sistem nilai(value),
sistem sikap (attitude), pandangan
dunia (word view), dan organisasi
sosial (social organization).
1.
Sistem Kepercayaan,
Nilai dan Sikap
Kepercayaan melibatkan
hubungan antara objek yang dipercaya dan karakteristik yang membedakannya.
Dalam komunikasi antar budaya tidak ada hal yang benar atau salah sejauh
hal-hal itu berhubungan dengan kepercayaan. Bila seseorang percaya bahwa hari
sabtu kurang baik untuk melakukan sesuatu, kita dapat mengatakan bahwa itu
salah, kita harus dapat mengenal dan menghadapi kepercayaan tersebut apabila
kita akan melakukan komunikasi yang sukses dan memuaskan (Sihabudin, 1996:56).
Nilai adalah seperangkat aturan yang
terorganisasikan untuk membuat pilihan-pilihan, dan mengurangi konflik dalam
suatu masyarakat. Nilai-nilai memiliki aspek evaluatif dan sistem keercayaan,
nilai dan sikap. Dimensi evalutif meliputi kualitas seperti, kemanfaatan,
kabaikan estetika, kabutuhan, dan kesenangan.
Kepercayaan dan nilai memberikan
kontribusi bagi pengembangan dan silap. Sikap sebagai suatu kecenderuangan yang
diperoleh dengan belajar untuk merespons suatu objek secara konsisten. Sikap
dipelajari melalui budaya, lingkungan kita membentuk sikap kita, kesikapan kita
untuk merspons dan akhirnya perilaku kita.
2.
Pandangan Dunia
Pandangan dunia
berkaitan dengan orientasi suatu buadaya terhadap hal-hal seperti Tuhan,
kemanusiaan, alam semestan dan masalah-masalah filosofis lainnya yang berkenaan
dengan makhluk. Oleh karena itu pandangan dunia begitu kompleks, kita sulit
melihatnya dalam suatu interaksi antarbudaya. Pandangan dunia mempengaruhi
kepercayaan nilai, sikap, penggunaan waktu dan tidak nyata, pandangan bidaya
sangat mempengaruhi komunikasi antar budaya.
3.
Organisasi sosial
Keluarga dan sekolah
merupakan dua unit sosial yang dominan dalam suatu budaya. Keluarga paling
berperan dalam pengembangan anak selama periode awal. Keluarga juga yang
membimbing anak dalam menggunakan bahasa, cara memperoleh kata hingga dialeg.
Keluarga juga memberika persetujuan, dukungan, ganjaran dan hukuman yang
mempengaruhi nilai-nilai yang anak kembangkan dan tujuan yang ingin dicapai.
Sekolah memiliki tanggung jawab yang sangat besar mewariskan dan memelihara
budaya. Sekolah memelihara budaya dengan memberitahu anggota-anggota budaya.
Sekolah mungkin menekankan revolusi yang berlandaskan perdamaian atau
kekerasan. Namun apapun yang dipelajari di sekolah sangat dipengaruhi oelh
budaya ditempat sekolah itu berada.
Kesimpulan
Hubungan
antar dua budaya dijembatani oleh perilaku-perilaku komunikasi antar
administrator yang mewakili suatu budaya dan orang-orang yang mewakili budaya
lain. Bila komunikasi mereka efektif, maka saling pengertian tumbuh yang
diikuti dengan kerja sama. Bila komunikasi tersebut salah, maka tak ada yang
dapat menjamin tindakan yang efektif. Inti penerapan pengetahuan antropologi
harus berrada dalam proses komunikasi.
Aspek
budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Beberapa unsur sosio-budaya yang
berhubungan dengan komunikasi antar budaya yaitu bahasa, kata-kata dan makna,
nada suara, emosi dan kontak fisik, dampak waktu secara kultural, tempat,
hubungan-hubungan kelas sosial, dan persepsi.
Sumber:
Komunikasi Antar Budaya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar