Prof. Henry Guntur Tarugan
METODOLOGI PENGAJARAN BAHASA
2
Penerbit:
angkasa Bandung
A.
Pengajaran
Bahasa Studional
1.
Latar belakang
sejarah
Asal usul pendekatan ini muncul
dengan karya pakar linguistic trapan britis pada pada tahun 1920-an dan
1930-an. Bermula pada saat ini , sejumlah para
terapan yang terkemukaan mengembangkan bagi pendekatan yang brinsip terhadap metedologi
dalam pengajaran bahasa.
Sala satu dari aspek-aspek utama rancang bangun metode yang dapat
menarik perhatian adalah peranan kosa kata. Seperti palmer bawa kosa kata
merupakan salah satu aspek yang palin penting bagi pembelajaran bahasa asing.
Yang kedua adalah bertambanya atau meningkatkan penekanan tekanan pada ketrampilan membaca sebagai tujuan studi
asing pada beberapa Negara.
Peranan kosa kata ini dianggap penting dalam pembelajaran bahasa,
terlebih pula dalam buku pelajaran sekolah Dasar, maka tidak usa kita heran
kalau ada sejumlah pakar yang menaru, perhatian serta mengadakan telah mengenai hal ini, misalnya,
Dale(165) dan Smit(1941), serta Anderson (1972) para pakara ini pendapata
bahwa”ada perkembangan kuantitas kosa
kata para pembelajart” dalam julah kata
yang terdapat setip tingkat tentu terdapat kata-kata yang bertumpang tindih
atau overlap words *(Andeson 1972:215)
yaitu kata-kata yang telah diajarakan pada satu seri dan dipakai pada seri
lainya. Sejalan dengan minat dan perhatian terhadap pengembangan prinsip-prinsip
rasional bagi pemilihan /penyaringan kosa kata adalah pemusatan perhatian pada
bobot/ isi gramatikal pelajaran kursus bahasa. Dalam karya karya tulisnya,
Palmer telah member penekanan pada masalah-masala tatabahasa bagi pembelajar
asing.
1
Palmer memandang tata bahasa sebagai yang mendasari pola-pola
kalimat bahasa lisan.Palmer Hoby, dan para pakar linguistic trapan Britis
lainya menganalisis bahasa inggris dan mengklasifikasikan struktu-struktu
grametikal utamanya kedalam pola-pola kalimat(“yang kemudian disebu
sttution tables”)yang dapat dipakai unttk membantu pengiternalisaian
kaidah-kaidah struktur kalimat bahasa ingris.
2.
Ciri-ciri Utama
1.
Pengajaran
bahasa bermula dengan bahasa lisan.
2.
Bahasa sasaran
atau bahasa target
merupakan bahasa(pengantar kelas)
3.
Butir-butir
bahasa baru diperkenalkan secara situasional
4.
Prosedur
penyelesaian kosa kata dituruti untuk menyakin kan bahwa kosa kata umum yang
penting benar-benar terajikan.
5.
Butir-butir
tatabahasa ditetapkan secara bertingkat menurut sesuai dengan prinsip bahawa
bentuk-bentuk yang rumit.
6.
Membaca dan
menulis memeperrkenalkan dimulai apabila dasar-dasar leksikal gramatikal yang
memadai sudah terpenuhi.
3.
Pendekatan
Teori pembelajaran yang mendasari PBS adalah sejenis teori pembelajaran bahasa
behavioris. Teori ini lebih memusatkan
perhatian pada “proses-proses” “kondisi-kondisi” pembelajaran. Frisby misalnya,
menutup pandangan-pandanga Palmer sebagai otoritatif:”
4.
Rangcang Bangun
Tujuan
Tujuan metode PBS adalah mengajarakankomando paraktis bagi keempat
keterampila berbahasa( menyimak, bebicara, membaca dan menulis
2
Silabus
Silabus strukturaln dabn daftar kata merupakan dasar bagi pengajara bahasa inggris
dalan PBS. Silabus struktur merupan suatu daftar struktural dasar dan pola-pola
kalimat bahasa inri
Bentuk kata-kata baru dan polah-pola kalimat baru demontrasikan dengan contoh-contoh dan bukan
melalui penjelasan bukan pencarian ketatabahasaan. Maka kata-kata dan pola-pola
kalimat baru tidak disampaikan melaluai
terjemahaan. Makna itu dibuat secara visual(dengan obyek-obyek, gambar-gambar
tindakan dan mimik).Dimana saja mungkin, kalimat,kaliamat model dikaitkan dan
diambil dari situasi tunggal”.peranan dalam pembelajar dalam PBS adalah sebagai
penyimak dan pengulang ucapan pengajar, serta peresposi atau pertanyaan dan perintah guru.pengajar bertindak sebagai
model, menata situasi-situasi yang dapat memenuhi kebutuhan struktur bahasa
sasaran dan kemudian membuat contoh atau model struktur baru yang akan diulagi
oleh para sisiwa. Kemudian sang pengajar menjadi terampil pemimpin orkes yang
mengalirkan alunan lagu dari para penyayi/ para pelaku”(Byrne1976:2).orang
monopolato yang terampil, menggunakann pertanyaan, perintah dan sasaran lain
untuk memancing serta memperoleh kalimat yang benar dari para pembelajar.. maka
pelajara-pelajan diarahkan dan dikehendaki oleh guru.dan sangguru pun menentukan dan menata langka-langka yang akan
dilaksanakan.
B.
Metode Audiovisual
1.
latar belakang
Sejarah
West(1926)
yang mengajar bahasa inggris di india, berpendapat bahwa belajar bahasa inggri ketimbang berbicara. Suatu keterampilan
dengan nilai tamba yang palin besar bagisiswa pada tahap-tahap awal pembelajara
bahasa.
tujuan
dan teknik
Tujuan
dan metode membaca secara tegas dibatasi hanya buat melatih para siswa
agar terampildsalam membaca
pemahaman.teknik-teknik metode terjemahan tatabahasa.
4
2.
Asumsi teoritis
Asumsi
–asumsi edukasionalnya sama dengan kurikulum sekolah Amerika 1920-an misalnya kegiatan-kegian
kependidikan penggunaan prakts yang sudh diterapkan atau ditentukan.
Faktor
penentu komuni kasi (tarigan 1868:180). Faktor penentu adalah
siapa
yang berbahasa denga siapa;
untuk
tujuan apa
dalam
situasi apa(tempat dan waktu)
dalam
konteks apa(peserta lain, budaya dan suasana);
media
apa(tatap muka, telepon, sura, kawat, buku, Koran, dan sebagainya);
dalam
pristiwa apa(bercakap-cakap, cerama, laporan lamaran keraja, pernytaan cinta,
dan sebagainya).
C.
Metode struktual Oral Situasional
1.
Latar belakang sejarah
Agaknya ada manfaatnya serba sedikit ciri-ciri asumsi pengajaran bahasa inggis di india
bahasa inggris mempunyai situasional sebagai”assosiateofficial language” atau “
bahasa resmi luarbiasa” dalam konteks nasional yang sangat” multilingual” dan merupakan media tekemuka/ dominan pada
adm
inistrasi tingkjat tinggi pendidkan.
Yang menjadi pendorong bagi projek adalah suatu ituisi pedagolik yang mendalam,
yang dikonkritkan dalam perdebatan
profesional di India.Pada umumnya bahasa inggris diberikan di sekolah sekitar usia 7n dan 12
tahun. Untuk meningkatkan mutu pendidkan
bahasa inggris sebagai bahasa
antaranya adalah” Bangaloro Project”(disingkat ctp). Yang menjadi perangsang dan pendorong bagi
projek itu adalah suatu intituisi pedagogik yang mendalam perdebatan
profesional di India.
2.
Prinsip dan prosedur
Pada tahun pertama pengajaran
proyek ini ditandai oleh ketidakpastian mengenai prosedur, kekecewaan,
pertentangan presepsi atau penafsiran mengenai pelajaran-pelajaran tertentu dan
bergagai responsi negatif dari
pembelajar. Diantara gagasan yang
dianggap baik dan memeberi harapan padeda
pada saatitu adalah “penyelesaian cerita” atau “story ”Complement.
Kita menanggung risiko
pengabain prinsip –prinsip umum semua pengajaran seperti:
I.
Menggantung ataumenyeleraskan
tingkat kegiatan atau upaya kepada kemampuan aktual para pelajar.
II.
Meningkatkan atu penahapan
urutan kegiatan dari yang sederhana
kepada yang lebih rumit untuk menghasilkan efek kumulatif.
III.
Pentingnya hubungan
pengajar-pembelajar yang brdasarkan kesinambungan atarara pelajaran-pelajaran
dan membangkitkan harapan-harapan pembelajaran yang layak dan .
IV.
. Pentingnya pujian atau teguran, umpan –baik
danpenghematan
Pelajaran pelajaran
yang tidak berhasil adalah yang:
Tidaka berpusat pada
tugas, misalnya seluru berpusat pada
persiapan latihan( atau penyelesaian tugas yang lebih lambat);
Terlalu sukar; atau (iii) terlalu mudah; dan(iv)
tenyata tidak menrik bgi para siswa, ataupun(v)
terhalang oleh faktor-faktor internal”(RIE Newsktter1/4, April 198o)
“ Kegiatan yang berfokus pada
makna” atau meaning-fokused activiti”. Didalam kelas, kegiatan yang berfokus pada
makna secara garis besarnya dapat dibagi
menjadi tiga yaitu:
1.
Kegiatan kesenjangan informasi
atau information-gap activi.
2.
Kegiatan kesenjangan pendapat
atau opini-gap activiti
3.
Kegiatan kesenjangan penalaran
atau reasoning-gap aktivity
6
4.
Pembelajaran
Pembelajaran adalah setiap
perubahan perilaku
yang relatif permanen, terjadi sebagai hasil dari pengalaman Definisi sebelumnya menyatakan bahwa seorang manusia dapat melihat perubahan terjadi tetapi tidak pembelajaran itu sendiri. Konsep tersebut
adalah teoretis, dan dengan demikian tidak secara langsung dapat diamati:
5.
Silabus dan materi
Silabus pada umumnya dianggap
sebagai suatu pernyataan mengenai” apa yang diajarka”.silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok
mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi
dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian,
alokasi waktu, dan sumber/ bahan/ alat belajar.
6. Silabus juga dapat di pandang sebagai:
- Silabus sebaggai
operasional
- Silabus
sebaggai konsep iluminatif
- Silabus
sebaggai suatu sarana penguasan organisasional
- Silabus
sebaggai suatu dokumen pesetujuan umum
Suatu silabus isi
dapat dikatakan merupakan suatu konsepsi iluminatif yang juga digunakan sebagai
konsepsi oprasional sedang suatu silabus prosedural merupakan suatukonsepsi
oprasional yang benar-benar beda dari
konsep iluminatif. Suatu silabus
isi (atau canten sylllabus”) lah tepat
dan sesuai kalau tujuan pengajaran adalah suatau pengertian oleh para
pembelajar mengenai subyek yang bersangkutan atau kalau perkembangan kemampuan
pada para pembelajara dianggap dapat dikontrol atau diawasi secaralangsung dengan bantuan konsepsi iluminatif yang
rerelvan.
7
Tidak ada komentar:
Posting Komentar