Translate

Senin, 03 Maret 2014

PLB

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini komunikasi antarbudaya menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Berbagai pemaknaan tentang komunikasi antarbudaya hingga saat ini terus berlangsung dan berkembang. Setiap orang dapat memahami, mendefinisikan serta memaknai komunikasi antarbudaya dari berbagai perspektif sesuai dengan pengalaman dan situasi hidupnya sehari-hari. Singkatnya, dalam berbagai aspek kehidupan komunitas masyarakat fenomena komunikasi antarbudaya selalu hadir dan mempengaruhi aktivitas seorang individu. Berbagai peristiwa dalam kehidupan kita sehari-hari banyak dipengaruhi oleh komunikasi antarbudaya ini. Setiap saat tak peduli di mana kita berada selalu saja membangun interaksi dan berkomunikasi dengan orang lain yang berasal dari kelompok, suku atau budaya lain. Melalui proses komunikasi antarbudaya, orang dapat mengenal, memahami dan menerima, satu sama lain. Artinya, dengan komunikasi antarbudaya kita dapat membangun, memperluas atau meningkatkan hubungan atau relasi dengan orang lain, serta mencegah dan menghilangkan konflik dalam masyarakat. Menyadari pentingnya komunikasi antarbudaya dalam kehidupan masyarakat maka perlu dipahami secara mendalam istilah komunikasi antarbudaya tersebut. Ada dua unsur pembentuknya yang perlu dimaknai dan dipelajari terlebih dahulu. Yakni unsur komunikasi dan unsur budaya. Hal ini pun digarisbawahi bahwa pengertian tentang komunikasi antarbudaya memerlukan suatu pemahaman tentang konsep komunikaasi dan budaya serta saling ketergantungan antara keduanya. Saling ketergantungan ini terbukti, apabila disadari bahwa pola-pola komunikasi yang khas dapat berkembang atau berubah dalam suatu kelompok budaya khusus tertentu. Pengenalan budaya secara turun temurun dari satu generasi dengan generasi berikutnya hanya dimungkinkan berkat digunakannya sarana-sarana komunikasi. Oleh karena itu komunikasi dapat dimengerti sebagai interaksi antarpribadi melalui pertukaran simbol-simbol linguistik, misalnya simbol verbal dan non verbal (Liliweri, 2009: 6). Komunikasi menjadi jembatan yang istimewa untuk menghubungkan seorang individu dengan yang lainnya. Kita dapat saling mengenal, mengetahui karakteristik lingkungan sosial kita hanya karena komunikasi. Sedangkan unsur budaya itu berkenaan dengan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Menururt Koentjaraningrat kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang turut menentukan persepsi manusia (Liliweri, 2011: 112). Bertolak dari pendapat tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh yang bersifat kompleks, abstrak, dan luas dalam mengikat perilaku anggota suatu masyarakat. Berdasarkan pemahaman di atas maka eksistensi komunikasi dan budaya tidak dapat dipisahkan. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi dan pada gilirannya komunikasi pun turut menentukan memelihara, mengembangkan atau mewariskan budaya dari waktu ke waktu. Relasi intim dari keduanya menciptakan apa yang kita sebut dengan istilah komunikasi antarbudaya. Untuk lebih mendalami konsep komunikasi antarbudaya ini, maka kelompok kami berusaha untuk mengulasnya sebisa mungkin. Rangkaian penjelasan konsep komunikasi antarbudaya ini seyogianya membantu mempertajam pengetahuan setiap pribadi dalam menciptkan komunikasi antarbudaya yang harmonis dan humanis. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, kami merumuskan masalah-masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu sebagai berikut: 1. Bagaimana konsep kebudayaan dalam konteks komunikasi antarbudaya? 2. Apa yang dimaksud dengan komunikasi antarbudaya? 3. Komponen-komponen penentu komunikasi antarbudaya? 4. Apa fungsi-fungsi komunikasi antarbudaya? 1.3 Tujuan Makalah sederhana ini memiliki maksud dan tujuan yang ingin dicapai bersama yakni: a) Setiap mahasiswa mampu memahami konsep dasar kebudayaan dalam konteks komunikasi antarbudaya. b) Setiap mahasiswa mampu memahami makna dan arti komunikasi antarbudaya? c) Setiap mahasiswa mampu memahami fungsi-fungsi dari komunikasi antarbudaya. d) Setiap mahasiswa dapat mengenal dan mendalami komponen-komponen penentu komunikasi antarbudaya. BAB II MEMAHAMI KEBUDAYAAN DALAM KONTEKS KOMUNIKASI ANTARBUDAYA 2.1 Konsep Kebudayaan dalam Konteks Komunikasi Antarbudaya Eksistensi kebudayaan merupakan buah karya atau hasil ciptaan manusia yang memiliki sifat universal dan mengikat semua anggota masyarakat. Orang kerapkali beranggapan bahwa kebudayaan merupakan milik manusia karena kebudayaan itu diciptakan oleh manusia. Hal ini sejalan dengan pendapat Ki Hadjar Dewantara yang menyatakan kebudayaan adalah buah budi manusia atau hasil perjuangan manusia (Dewantara, 1994: 54). Mengacu pada pendangan Ki Hadjar Dewantara ini kita dapat menyimpulkan bahwa hidup dan matinya kebudayaan itu berjalan seiring dengan keberadaan manusia. Artinya apabila manusia di muka bumi ini telah tiada maka punalah pula kebudayaan itu. Berdasarkan pemahaman tersebut maka konsep kebudayaan erat berhubungan dengan manusia. Konsep kebudayaan diterjamahkan sebagai hasil penyatuan perasaan yang dibangun oleh keseluruhan sistem sosial karena keintiman hubungan timbal balik, kesetiakawanan, persaudaraan/kekeluargaan dari kelompok kecil, kelompok etnik, organisasi bahkan oleh seluruh masyarakat. Konsep kebudayaan semacam itu memungkinkan terjadinya kounikasi antarbudaya pada setiap kelompok masyarakat tertentu. Saling mengkomunikasikan budaya tersebut disebabkan oleh adanya persepsi manusia. Persepsi merupakan cara pandang atau penilaian manusia terhadap sesuatu objek atau peristiwa tertentu. Dengan demikian persepsi merupakan aktivitas manusia yang selalu menggambarkan pengalaman manusia tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan tentang objek yang semuanya sangat tergantung atas kebudayaan manusia (Liliweri, 2012: 112). Pada proses terjadianya komunikasi antarbudaya yang disebabkan oleh persepsi manusia juga didukung oleh beberapa unsur penting, yakni sensasi, atensi, ekspektasi atau harapan serta memori. Sensasi merupakan cara indra manusia menangkap secara sepintas atas objek. Objek di sini dimaknai sebagai elemen-elemen budaya tertentu. Oleh sebab itu sensasi erat berhubungan dengan perasaan terharu, terpikat karena melihat suatu elemen budaya yang mengejutkan/menakjubkan. Unsur atensi merupakan perhatian seseorang individu terhadap objek tertentu. Elemen-elemen budaya tertentu yang hadir ke permukaan menyihir seseorang untuk menanggapinya secara serius dan mampu mengkomunikasikannya secara bertanggungjawab dalam hidup bermasyarakat. Jika sudah memiliki perhatian terhadap kehadiran budaya tertentu maka lahirlah ekspektasi atau harapan. Artinya mengharapkan atau memiliki keinginan agar elemen budaya itu dapat dikomunikasikan secara ramah dalam masyarakat. Selanjutnya semua pengalaman akan budaya tertentu secara ringkas dapat disimpan dalam ingatan/memori. Elemen-elemen budaya yang tersimpan dalam memori setiap individu sesewaktu dipraktekan dan dikomunikasikan dengan orang lain dalam lingkup masyarakat. Setiap hari manusia mempersepsi lingkungan dan budaya tertentu. Manusia akan memilih, mengevaluasi dan mengorganisir elemen budaya yang masuk dari luar lingkungannya. Hal ini bertujuan agar perbedaan-perbedaan budaya dapat dikomunikasikan secara benar sesuai dengan pengalaman setiap individu dalam masyarakat. Apabila terjadi kesamaan persepsi maka terciptalah pengakuan bersama misalnya memakai simbol, tanda-tanda dan kode-kode bahasa-bahasa verbal dan nonverbal yang sama guna menerjemahkan elemen-elemen budaya dari dalam maupun luar masyarakat tertentu. Dengan demikian konsep kebudayaan dalam konteks kebudayaan antarbudaya itu sangat bertalian dengan identitas diri dan budaya manusia. Setiap kebudayaan cenderung memproklamirkan identitasnya, perilaku, norma-normanya dalam masyarakat sebagai sebuah budaya. 2.2 Pengertian Komunikasi Antarbudaya Pembicaraan mengenai komunikasi antarbudaya tidak terlepas dari pemaknaan kebudayaan dan komunikasi. Kebudayaan dan komunikasi bagaikan dua sisi mata uang yang tak akan dilepaspisahkan begitu saja. Untuk itu pertama-tama kita perlu mendalami secara sepintas tentang pengertian kebudayaan dan komunikasi tersebut. Kebudayaan dipahami sebagai sekumpulan sikap, nilai, keyakinan, dan perilaku yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang, yang dikomunikasikan dari satu generasi ke generasi berikutnya lewat bahasa atau beberapa sarana komunikasi lain (Matsumoto, 2008: 5). Budaya juga dapat diartikan sebagai suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni (Mulyana & Rahmat, 2006: 25). Sedangkan komunikasi dapat diartikan sebagai proses peralihan dan pertukaran informasi oleh manusia melalui adaptasi dari dan ke dalam sebuah sistem kehidupan manusia dan lingkungannya (Liliweri, 2011: 5). Pengertian singkat dari kebudayaan dan komunikasi ini dapat melahirkan pemaknaan terhadap komunikasi antarbudaya tersebut. Menurut Alo Liliweri, definisi komunikasi antarbudaya yang paling sederhana yakni komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda latarbelakang kebudayaan (Liliweri, 2009: 9). Selain itu beliau juga mendefinisikan komunikasi antarbudaya merupakan komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh komunikator dan komunikan yang berbeda bahkan dalam suatu bangsa sekalipun (Liliweri: 2011 : 14). Dengan pemahaman yang sama maka komunikasi antarbudaya juga diartikan sebagai proses pembagian informasi, gagasan atau perasaan di antara mereka yang berbeda latar belakang budayanya. Proses pembagian informasi itu dilakukan secara lisan dan tertulis, juga melalui bahasa tubuh, gaya atau tampilan pribadi, atau bantuan hal lain disekitarnya yang memperjelas pesan (Liliweri, 2009: 10). Adapun beberapa pandangan para ahli mengenai definisi komunkasi antarbudaya yakni: a) Andrea L. Rich dan Dennis M. Ogawa dalam buku Larry A. Samovar dan Richard E. Porter Intercultural Communication, A Reader bahwa komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda kebudayaan, misalnya antar suku bangsa, antar etnik dan ras, antar kelas sosial. b) Samovar dan Porter mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya terjadi di antara produser pesan dan penerima pesan yang latar belakang kebudayaannya berbeda. c) Charley H. Dood mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya meliputi komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi, antarpribadi, dan kelompok, dengan tekanan pada perbedaan latarbelakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta. d) Lustig dan Koester dalam buku Intercultural Communication Competence mendefinisikan komunikasi antarbudaya adalah suatu proses komunikasi simbolik, interpretatif, transaksional, kontekstual yang dilakukan oleh sejumlah orang yang karena memiliki perbedaan derajat kepentingan tertentu memberikan interpretasi dan harapan secara berbeda terhadap apa yang disampaikan dalam bentuk perilaku tertentu sebagai makna yang dipertukarkan. e) Guo Ming Chen dan William J. Starosta mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok. Menurut mereka komunikasi antarbudaya itu dapat dilakukan: 1) dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang membahas suatu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang dipertentengkan. Simbol tidak sendirinya mempunyai makna tetapi dia dapat berarti ke dalam satu konteks, dan makna-makna itu dinegosiasikan atau diperjuangkan. 2) melalui pertukaran sistem simbol yang tergantung dari persetujuan antarsubjek yang terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi dalam proses pemberian makna yang sama. 3) sebagai pembimbing perilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena mempunyai pengaruh terhadap perilaku kita. 4) menunjukkan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan pelbagai cara (Liliweri, 2009: 11-12). Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa komunikasi antarbudaya merupakan suatu proses komunikasi yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang berbeda latar belakang budaya, suku, ras, etnik yang disampaikan baik secara lisan maupun tertulis. Pengertian-pengertian komunikasi antarbudaya yang dipaparkan di atas dilatarbelakangi oleh dua konsep yang dominan yakni kebudayaan dan komunikasi. Kebudayaan menjadi latar belakang kehidupan manusia akan senantiasa mempengaruhi perilaku komunikasi manusia. Di mana ketika seorang individu melakukan komunikasi antarpribadi dengan sesamanya dalam masyarakat yang majemuk, maka dengan sendirinya orang tersebut menjadi orang pertama yang dipengaruhi oleh kebudayaan individu tersebut. Dalam tema atau bagian uraian tentang komunikasi antarbudaya ini, terdapat pula beberapa istilah yang memiliki pengertian identik dengannya misalnya: i. Komunikasi Lintas Budaya Komunikasi lintas budaya merupakan komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang berbeda kebudayaan. Komunikasi lintas budaya lebih menekankan perbandingan pola-pola komunikasi antarpribadi di antara peserta komunikasi yang berbeda kebudayaan. Sesungguhnya komunikasi lintas budaya menggambarkan komunikasi di antara orang-orang yang berbeda suku, ras, etnik, pola perilaku, sosial ekonomi, politik dan budaya. ii. Komunikasi Intrabudaya Komunikasi intrabudaya merupakan komunikasi yang berlangusng antara para anggota kebudayaan yang sama namun tetap menekankan pada sejauh mana perbedaan pemahaman dan penerapan nilai-nilai budaya yang mereka miliki bersama (Liliweri, 2011: 9). Komunikasi intrabudaya ini lebih memusatkan perhatian pada komunikasi antara para anggota dalam satu kebudayaan. iii. Komunikasi Internasional Komunikasi internasional merupakan komunikasi yang bersifat interaktif yang menggunakan media. Komunikasi internasional senantiasa berhubungan dengan media massa yang dianggap sebagai agen penyebaran berita-berita internasional dari media sumber di satu negara kepada penerima di negara lain. Menurut Depari dalam Alo Liliweri (2011) bahwa komunikasi internasional ditinjau dari dua aspek yakni segi wilayah dan isi. Dari segi wilayah penelitiannya komunikasi internasional pada umumnya menyangkut keterlibatan dua atau lebih negara di mana produk komunikasi massa disebarkan melintasi batas negara melalui struktur jaringan komunikasi tertentu. Sedangkan dari segi isinya penelitian komunikasi internasional dapat dikategorikan atas berita dan informasi versus hiburan dan materi budaya (Liliweri, 2011: 18). 2.3 Komponen-komponen Penentu Komunikasi Antarbudaya Dalam berkomunikasi dengan konteks keberagaman kebudayaan kerapkali muncul komponen-komponen kebudayaan yang melingkupnya. Misalnya saja dalam penggunaan bahasa, lambang-lambang, nilai atau norma-norma masyarakat dan lain sebagainya. Dengan demikian syarat utama komunikasi antarbudaya adalah menciptakan relasi komunikasi yang tentu saja harus ada saling pengertian dan pertukaran informasi atau makna antara satu komponen budaya dengan komponen budaya lainnya. Oleh sebab itu ada beberapa komponen penentu komunikasi antarbudaya, yakni (Liliweri, 2011, 116-1134) : (a) Pandangan Hidup, Kosmologi dan Ontologi. Ketiga komponen itu selalu dimiliki oleh setiap suku, ras dan etnik tertentu. Setiap daerah selalu berusaha menggambarkan dan menerangkan ketiga hal tersebut dalam proses interaksi dengan orang lain. Relasi individu dengan ketiga komponen tersebut seringkali tertuang dalam unsur kepercayaan, sikap dan nilai yang merupakan karakteristik dominan dalam kehidupan sebuah masyarakat. Pertama, Kepercayaan. Kepercayaan berkaitan erat dengan keyakinan akan sesuatu hal yang diluar kemampuan manusia normal. Kepercayaan ini dapat dibagi menjadi beberapa kategori yakni; kepercayaan primitif tanpa sayarat. Kepercayaan primitif tanpa syarat merupakan inti dari seluruh sistem pengalaman langsung manusia. Kepercayaan primitif dengan konsesus nol. Artinya kepercayaan yang dipelajari manusia dari pengalaman langsung, namun pengalaman itu sangat pribadi sehingga acapkali bersifat idiosinkretis. Kepercayaan otoritas. Kepercayaan ini dinilai sangat kontroversial karena tergantung dengan siapa manusia berhubungan dan membagi informasi atau dari sumber mana suatu informasi diperoleh. Kepercayaan perolehan. Kepercayaan ini merupakan kepercayaan yang diperoleh dari pertukaran dan komunikasi dengan sumber-sumber tertentu atau orang lain yang dianggap patut dipercayai, lebih ahli dan lebih tahu dalam bidang tersebut. Kepercayaan ngawur. Kepercayaan ini berkaitan dengan preferensi individu dan perasaan yang relatif mudah tatkala memperoleh suatu informasi. Kedua; Sikap. Proses komunikasi antarbudaya sangat memperhatikan komponen sikap pribadi-pribadi yang berbeda budaya. Ada beberapa point penting yang berkaitan dengan komponen sikap ini yakni; sifat-sifat dasar sikap. Sikap adalah sebuah sistem penilaian yang relatif bertahan. Penilaian itu bisa positif atau negatif yang tergantung atas ajaran kebudayaan tentang kepercayaan, perasaan/emosi, dan kecenderungan untuk bertindak terhadap objek. Sifat sikap mengandung tiga kriteria pokok yakni subjek dan objek sikap, struktur atau komponen sikap dan karakteristik sikap. Pembentukan dan perubahan sikap. Sikap manusia dibentuk atau diubah dalam suatu proses untuk memuaskan keinginannya. Di samping itu sikap dibentuk atau diubah oleh informasi yang diperoleh. Ketiga; Nilai. Nilai merupakan prinsip-prinsip sosial, tujuan atau standar yang diterima oleh individu dan sekelompok orang, kelas sosial maupun masyarakat. Ada begitu banyak nilai yang dapat dikomunikasi dalam kehidupan bersama dengan orang lain yang berbeda budaya. Setiap nilai dalam budaya masyarakat tertentu dapat dimaknai oleh setiap individu yang baginya baik dan bermanfaat bagi kehidupannya. (b) Skema kognitif. Skema kognitif berarti sistem konsep-konsep kognitif yang dimiliki oleh individu atau sekelompok orang terhadap objek tertentu. Setiap kebudayaan mengajarkan skema kognitif yang berbeda-beda. Oleh karena itu setiap pribadi patut memperhatikan skema kognitif dalam komunikasi antar budaya. Skema kognitif mempengaruhi keputusan individu untuk menentukan prioritas fungsi budayanya berdasarkan waktu dan tempatnya. (c) Bahasa. Bahasa sangat menentukan ciri kebudayaan, dari bahasa diketahui derajat kebudayaan suatu suku bangsa. Setiap budaya menjadikan bahasa sebagai media untuk menyatakan prinsip-prinsip ajaran, nilai dan norma budaya kepada sesamanya yang lain. (d) Konsep Ruang dan Waktu. Setiap kebudayaan mengajarkan kepada anggota masyarakatnya tentang orientasi waktu dan jarak. Setiap suku bangsa mempunyai orientasi waktu yang berbeda-beda. Demikian pun setiap suku memiliki tata ruang yang berbeda pula. (e) Agama, Mitos, dan Cara Menyatakannya. Setiap budaya memiliki gejala dan peristiwa yang tidak dapat dijelaskan secara akal sehat tapi hanya berdasarkan pengalaman iman semata-mata. (f) Hubungan Sosial dan Jaringan Komunikasi. Sebagian besar kebudayaan masyarakat kita merupakan kebudayaan lisan yang diyakini sebagai kebudayaan yang lebih menekankan pada komunalisme/pemilikan bersama dan kerja sama. Dengan demikian setiap individu harus menjalin hubungan dengan orang lain tanpa memandang suku, ras ataupun budaya tertentu. 2.4 Fungsi-fungsi Komunikasi Antarbudaya Manusia adalah makhluk sosial, oleh sebab itu manusia tak dapat hidup sendirian. Manusia selalu membangun komunikasi dengan orang lain tanpa memandang perbedaan latar belakang sosial budaya. Untuk menciptakan sebuah kehidupan yang kondusif dan harmonis maka manusia perlu memperhatikan beberapa fungsi komunikasi antarbudaya berikut (Liliweri, 2009: 36-40) : 1) Fungsi Pribadi Fungsi pribadi merupakan fungsi-fungsi komunikasi yang ditunjukkan melalui perilaku komunikasi yang bersumber dari seorang individu (Liliweri, 2009: 36). Fungsi pribadi ini dapat dibagi lagi menjadi beberapa bagian yakni: (a) menyatakan identitas sosial. Dalam proses komunikasi antarbudaya terdapat perilaku komunikasi individu yang berfungsi untuk menyatakan identitas diri maupun identitas soosial. (b) menyatakan integrasi sosial. Integrasi sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan antarpribadi, antarkelompok namun tetap mengakui perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiap unsur. Tujuan integrasi sosial yakni memberikan makna yang sama atas pesan yang dibagi antara seseorang individu dengan individu yang lainnya. (c) menambah pengetahuan. Bahwa peristiwa komunikasi yang terjadi antarpribdai maupun antarbudaya menambah pengetahuan bersama, saling mempelajari kebudayaan masing-masing. 2) Fungsi Sosial Fungsi sosial merupakan fungsi-fungsi komunikasi bersifat umum yang bersumber dari kesepakatan bersama. Fungsi sosial meliputi: (a) Pengawasan. Praktek komunikasi antarbudaya di antara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan berfungsi saling mengawasi. (b) Menjembatani. Aktivitas komunikasi antarpribadi, termasuk komunikasi antarbudaya yang dilakukan antara dua orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan di antara mereka. (c) Sosialisasi nilai. Fungsi sosiaslisasi nilai merupakan fungsi untuk mengajarkan dan memperkenalkan nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lain. (d) Menghibur. Fungsi ini mengedepakan komunikasi yang sifatnya memberikan hiburan dan kesenangan bagi seseorang dalam lingkup budaya yang berbeda. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Perspektif tentang komunikasi antarbudaya dilatarbelakangi oleh konsep budaya dan komunikasi dalam kehidupan manusia. Bahwa konsep kebudayaan melekat erat dalam ranah kehidupan manusia dan dikomunikasi setiap waktu. Oleh sebab itu kebudayaan dipahami sebagai sekumpulan sikap, nilai, keyakinan, dan perilaku yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang, yang dikomunikasikan dari satu generasi ke generasi berikutnya lewat bahasa atau beberapa sarana komunikasi lain. Sedangkan komunikasi dapat diartikan sebagai proses peralihan dan pertukaran informasi oleh manusia melalui adaptasi dari dan ke dalam sebuah sistem kehidupan manusia dan lingkungannya. Dari pemahaman ini melahirkan konsep komunikasi antarbudaya yang bersifat universal. Bahwa komunikasi antarbudaya dipahami sebagai komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda latarbelakang kebudayaan. Atau komunikasi antara orang-orang yang berbeda kebudayaan, misalnya antar suku bangsa, antar etnik dan ras, antar kelas sosial. Ada pula pengertian-pengertian lain yang sepadan dengan konsep komunikasi antarbudaya yakni: Pertama; komunikasi lintas budaya yakni komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang berbeda kebudayaan. Kedua; Komunikasi intrabudaya merupakan komunikasi yang berlangusng antara para anggota kebudayaan yang sama namun tetap menekankan pada sejauhmana perbedaan pemahaman dan penerapan nilai-nilai budaya yang mereka miliki bersama. Ketiga; Komunikasi internasional merupakan komunikasi yang bersifat interaktif yang menggunakan media. Komponen-komponen penting yang serigkali terlibat aktif dalam proses komunikasi antarbudaya yakni; pandangan hidup, kosmologi dan ontologi, sikap, nilai, bahasa, skema kognitif, agama, konsep ruang dan waktu serta hubungan sosial dan jaringan komunikasi. Dalam proses komunikasi antarbudaya juga memiliki fungsi-fungsi tertentu antara lain: fungsi pribadi yang mencakup fungsi yang menyatakan identitas sosial, integrasi sosial dan menambah pengetahuan. Selain itu komunikasi antarbudaya mempunyai fungsi sosial yang terdiri dari fungsi pengawasan, fungsi menjembatani, fungsi sosialisasi nilai dan fungsi menghibur. Daftar Pustaka Dewantara, Ki Hadjar. Kebudayaan II. Yogyakarta: Percetakan Offset Tamansiswa. 1994. Liliweri, Alo. Gatra-Gatra Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2011. __________. Dasar-dasar Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2009. Matsumoto, David. Pengantar Psikologi Lintas Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2008. Mulyana, Deddy, Jalaluddin Rakhmat. (Editor) Komunikasi antar Budaya. Panduan berkomunikasi dengan orang-orang berbeda budaya. Bandung: Remaja Rosda Karya. 1996.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar