Translate

Selasa, 10 Maret 2015

RINGKASAN JURNAL KARYA Widharyanto DOSEN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA



NAMA : ALFONSUS NOVENDI / 121224057

PERSPEKTIF PEMBERITAAN SURAT KABAR DAN PIRANTI LINGUISTIK YANG DIGUNAKANNYA
B. Widharyanto
FKIP – Program Studi PBSID, Universitas Sanata Dharma
ABSTRAK
Perspektif pemberitaan ialah posisi pencerita yang dikaitkan dengan latar belakang nilai – nilai keyakinan, pengetahuan, pandangan hidup penulis dalam melihat, memproses, membuat, dan melaporkan suatu peristiwa dalam interaksi social. Perspektif pemberitaan dalam suatu teks dapat berwujud uraian yang favorable, unvavorable, atau netral terhadap objek.
  1. PENDAHULUAN
Renkema ( 1993 ) menjelaskan bahwa istilah perspektif digunakan untuk mendeskripsikan ihwal sudut pandang. Sudut pandang yang dimaksudkan disini ialah posisi pencerita yang dikaitkan dengan latar belakang nilai – nilai keyakinan, pengetahuan, pandangan hidup penulis dalam melihat, memproses, membuat, dan melaporkan suatu peristiwa dalam interaksi social. Keraf ( 1983 ) memberikan ilustrasi yang menarik tentang fenomena perspektif ini. Dia mencontohkan bahwa suatu topic mengenai masalah perburuhan dapat dilihat dari perspektif sosialis atau liberal / kapitalis. Penulis yang berpandangan sosialis akan melihat persoalan perburuhan dari segi para buruh atau pekerja. Sebaliknya penulis berpandangan liberal / kapitalis akan mengkaji persoalan perburuhan dari segi pemilik modal. Perbedaan prespektif di antara dua penulis tersebut akan menghasilkan informasi yang berbeda.
Dalam tulisan jurnalistik seperti berita, tajuk rencana, dan opini, fenomena prespektif ini dapat berpotensi menjadi masalah yang cukup pelik apabila isi tulisan dikaitkan dengan hak dan kepentingan para pembacanya yang heterogen. Prespektif tertentu berpotensi bersifat afirmatif, positif, dan mendukung kelompok pembaca tertentu dan sebaliknya bersifat negatif dan merugikan kelompok pembaca yang lain. Demi kepentingan itu, tulisan jurnalistik hendaknya dihasilkan dari proses kerja yang professional, sikap yang independen, dan tidak beritikat buruk, serta berisi informasi yang akurat dan berimbang.
  1. KAJIAN PERSPEKTIF PEMBERITAAN
Prespektif pemberitaan dalam suatu teks dapat berwujud uraian yang favorable, unfavorable, atau netral terhadap objek berita. Prespektif yang seperti itu akan terlihat dalam strategi penyajian informasi ( presentation of information ) dan bentuk – bentuk ekspresi bahasa yang digunakan dalam tulisan berita ( Widharyanto, 2000 ). Strategi penyajian informasi dibangun oleh wartawan melalui pemilihan tema atau titik tolak pembicaraan, pemilihan judul, dan pengurutan informasi dalam pola tertentu. Selanjutnya bentuk – bentuk ekspresi bahasa dibangun oleh wartawan melalui piranti linguistic seperti struktur ketransitifan , struktur leksikal, pilihan kata, struktur nominalisasi, pemakaian modalitas, tindak tutur, metafora, dan pengaturan proposisi sebagai informasi lama dan baru.
            Skema Kajian Perspektif Pemberitaan.
           
Prespektif Pemberitaan
Alat Pembentuk Prespektif
Piranti Bahasa

Favorable, unfavorable, atau netral
Strategi Penyajian Informasi
  • Pemilihan tema
  • Pemilihan judul
  • Pengurutan informasi
Bentuk Ekspresi Bahasa
  • Struktur ketransitifan
  • Struktur leksikal
  • Pilihan kata
  • Struktur nominalisasi
  • Pemakaian modalitas
  • Tindak tutur
  • Metafora
  • Struktur informasi

  1. STRATEGI PENYAJIAN INFORMASI
Prespektif dalam pemberitaan media massa dibangun oleh wartawan sejak pemilihan tema dalam beritanya ( Widharyanto, 2000 ). Tema dalam hal ini pararel dengan apa yang diistilahkan oleh Perfetti dan Goldman ( 1974 ) sebagai “ subjek sentral wacana “. Selain pilihan tematik, prespektif pemberitaan juga dibangun melalui pemilihan judul berita yang tepat. Brown dan Yule ( 1983 ) menyatakan bahwa judul suatu wacana sebaiknya tidak disamakan dengan topic, tetapi sebaiknya dipandang sebagai suatu ungkapan topic yang mungkin. Sebagai titik tolak pemberian akan membawa konsekuensi pada masuknya informasi – informasi tertentu, baik berupa keadaan, kejadian atau peristiwa, serta partisipan – partisipan yang relevan dan tidak dimasukannya informasi – informasi lain yang tidak relevan di dalam tulisan beritanya.
Selain pilihan tematik, perspektif pemberitaan juga dibangun melalui pemilihan judul berita yang tepat. Brown dan Yule ( 1983 ) menyatakan bahwa judul suatu wacana sebaiknya tidak disamakan dengan topic. Sebagai ungkapan topic yang mungkin, judul dalam hal ini berfungsi sebagai upaya tematisasi. Upaya tematisasi melalui judul ini menjadi tritik tolak yang membatasi tafsiran makna dari informasi – informasi yang dikembangkan dalam isi berita.
Prespektif dalam pemberian semakin kuat diperlihatkan apabila wartawan juga memanfaatkan linearitas sebagai piranti pembangun perspektivitas. Linearitas dalam hal ini bermakna pengurutan informasi – informasi dalam suatu berita.
  1. Bentuk – bentuk Ekspresi Bahasa.
Prespektif dalam produksi berita ternyata tidak hanya dapat diamati keberadaannya dalam struktur wacana, tetapi juga dapat diamati dalam struktur yang lebih rendah dari wacana., yakni paragraph atau gugus kalimat, kalimat dan kata.
  1. Sistem Ketransitifan
Sistem ketransitifan menurut Halliday ( 1985 : 101 ) berkaitan dengan 3 hal, yakni proses itu sendiri, seperti yang tercermin dalam verba pengisi fungsi predikat., partisipan yang muncul berkaitan dengan proses tersebut, dan keadaan yang berkaitan dengan proses maupun partisipan itu.  Dalam hubungannya dengan strategi pemakaian bahasa berita, ketransitifan sering dimanfaatkan oleh para wartawan untuk membangun suatu interpretasi tertentu dari peristiwa – peristiwa yang akan dilaporkan pada pembaca.
Apabila dianalisis dengan kerangka kerja ketransitifan Halliday ( 1985 ), Fowler ( 1991 ) dan McCarthy ( 1994 ), maka klausa – klausa yang dihasilkan para wartawan dari berbagai surat kabar, seperti klausa 1- 6 berikut :
1.      Polisi menembak mati enam demonstran.
2.      Enam demonstran ditembak mati oleh polisi.
3.      Enam demonstran tewas.
4.      “ enam demonstran tertembak mati “, ujar saksi mata.
5.      Saksi mata melihat enam demonstran mati tertembak.
6.      Enam mahasiswa yang tewas itu ialah Elang Mulia ( … ).
Prespektif dari suatu peristiwa dapat diperlihatkan dengan cara pemakaian variasi ketransitifan, seperti verba yang memperlihatkan proses perbuatan atau proses kejadian yang membawa pengaruh pada partisipan – partisipan seperti pelaku dan tujuan.
Fowler ( 1991 ), MacCathy dan Carter ( 1994 ), Lee ( 1992 ), dan Widharyanto ( 2000 ) membuktikan bahwa masing – masing variasi bentuk ketransitifan memasukkan suatu pandangan maupun sikap wartawan ( atau sikap institusinya ) yang berbeda tentang peristiwa yang dilaporkan.
  1. Pilihan Kata
Pilihan kata di dalam suatu teks menurut Fairclough ( 1989 ) menandai secara social maupun secara ideologis bidang – bidang pengalaman yang berbeda dari penulisnya, baik berupa nilai eksperiental, nilai relasional, dan nilai ekspresif. Nilai eksperiental berkaitan dengan pengetahuan dan keyakinan yang dibawakan oleh kata tersebut. Nilai relasional berkaitan dengan hubungan – hubungan social yang tercipta oleh kata tersebut. Nilai ekspresif berkaitan dengan penilaian atau evaluasi tentang sesuatu yang dicerminkan oleh kata tersebut.
Dalam penelitian Fowler ( 1991 ), kategorisasi kosa kata merupakan suatu bagian integral reproduksi ideology dalam media massa. Pada waktu seorang wartawan melaporkan suatu peristiwa actual yang terjadi disekitarnya dengan menggunakan  pilihan – pilihan kata yang termasuk dalam wilayah “ taksonomi organisasi “ ideology tertentu, maka wartawan tersebut telah memasukkan prespektif tertentu di dalam beritanya.
  1. Nominalisasi
Fowler ( 1991 ) menjelaskan bahwa nominalisasi ialah transformasi sintaksis secara radikal dalam suatu klausa yang memiliki konsekuensi structural yang luas, dan memberikan kesempatan ideologis yang besar. Dalam bahasa Indonesia, misalnya secara struktur sangat dimungkinkan bahwa predikat yang berupa verba direalisasikan secara sintaksis sebagai nomina. Contoh :
1.      Polisi menembaki para mahasiswa secara membabi buta dalam insiden Semanggi.
2.      Penembakan secara membabi buta terjadi dalam insiden Semanggi.
Pada dua kalimat di atas terlihat bahwa kata menembaki pada ( 1 ) diderivasikan menjadi penembakan pada  ( 2 ). Efek dari derivasi nominal seperti yang terlihat dalam ( 2 ) ialah banyak informasi yang tidak terekspresikan.

  1. Modalitas
Modalitas oleh Fowler ( 1986 : 1991 ) dimengerti sebagai komentar atau sikap yang berasal dari teks, baik secara eksplisit atau implisit, diberikan oleh penulis terhadap hal yang dilaporkan yakni keadaan, peristiwa, dan tindakan. Modalitas sebagai komentar atau sikap dari penulis yang tertuang dalam teks dapat dibagi menjadi 4 jenis yaitu kebenaran, keharusan, izin dan keinginan.
Dengan modalitas kebenaran, Fowler ( 1991 ) menyatakan bahwa seorang penulis mengindikasikan atau menyatakan secara tidak langsung suatu komitmen pada kebenaran dari suatu proposisi / makna yang diutarakannya, atau pada suatu prediksi tingkat kemungkinan dari deskripsi suatu kejadian yang terjadi.
  1. Tindak Tutur
Bentuk ekspresi bahasa yang dapat digunakan untuk menunjukkan perspektif ialah elemen – elemen interpersornal seperti tindak tutur atau speech acts. Pandangan yang mendasari ialah dalam berbahasa apabila kita mengatakan sesuatu, kita juga melakukan sesuatu melalui tuturan itu. Tindak tutur ini di dalam laporan berita banyak digunakan untuk mendeskripsikan dan mengilustrasikan suatu maksud terselubung dari jurnalis atau partisipan dalam peristiwa yang dilaporkan oleh jurnalis.
Dalam kaitannya dengan politik dan ideology, maksud terselubung yang dilatarbelakangi oleh sikap dan pandangan penulis dalam peristiwa yang dilaporkan oleh jurnalis, sengaja disebarluaskan untuk mempengaruhi atau memperlokusi opini pembaca.
  1. Metafora
Metafora menurut Aristoteles ( dalam Wahab, 1991 ) ialah ungkapan kebahasaan untuk menyatakan hal bersifat umum untuk hal yang bersifat khusus dan sebaliknya. Quintilian ( dalam Levin, 1977 ) dengan kriteria yang berbeda menyatakan bahwa metafora ialah ungkapan kebahasaan untuk mengatakan sesuatu yang hidup untuk sesuatu lainnya yang juga hidup.
Berbeda dengan dua pendapat yang cenderung bersifat dikotomi, yakni umum khusus dan hidup mati, Wahab ( 1991 ) mengartikan metafora sebagai ungkapan kebahasaan yang maknanya tidak dapat dijangkau secara langsung dari lambang karena makna yang dimaksud terdapat pada prediksi ungkapan kebahasaan itu.
Dalam kaitannya dengan prespektif pemberitaan, metafora digunakan untuk menyatakan sifat – sifat suatu hal untuk hal lain. Sifat – sifat itu dapat positif dapat pula negative.

  1. Struktur Informasi
Bentuk ekspresi bahasa yang juga dikaji dan dilihat dapat digunakan untuk mengungkapkan prespektif ialah struktur informasi. Struktur informasi atau organisasi isi proposisional dalam kalimat secara umum dapat dibagi atas informasi lama ( latar given information ) atau informasi baru ( new information ). Informasi lama ialah informasi yang telah dimiliki atau ada dalam memori pembaca. Menurut Halliday ( 1967 : 211 ) informasi lama “ dapat ditemukan kembali secara anaforis atau situasional :. Informasi baru ialah informasi yang belum diketahui oleh pembaca dan menurut Halliday ( 1967 : 204 ) informasi tersebut “ tidak dapat ditemukan kembali dari wacana sebelumnya “.
Pengaturan isi proposisi ke dalam informasi lama atau informasi baru dapat dimanipulasi untuk kepentingan penulis dengan cara membangun praanggapan atau presupposition yang berbeda dengan fakta sebenarnya.
  1. Penutup
Prespektif pemberitaan seharusnya bersifat netral, artinya wartawan penulis berita hanya memotret peristiwa yang dilihatnya dan didengarnya apa adanya tanpa menambah atau mengurangi informasinya. Ada bahaya yang muncul apabila wartawan sudah melakukan upaya menambah atau mengurangi informasi atau fakta. Bahaya itu terkait dengan masalah objektifitas, keseimbangan tulisan, dan netralitas yang dapat berakibat pada penempatan objek berita secara favorable atau unvaforable.
Apabila terjadi, linguistic menyediakan piranti – piranti yang dapat digunakan untuk mengungkap fenomena itu. Prespektif tertentu itu akan terlihat dalam strategi penyajian informasi ( presentation of information ) dan bentuk – bentuk ekspresi bahasa yang digunakan dalam tulisan berita ( Widharyanto, 2000 ).




                       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar