NAMA
: ALFONSUS NOVENDI / 121224057
PERSPEKTIF
PEMBERITAAN SURAT KABAR DAN PIRANTI LINGUISTIK YANG DIGUNAKANNYA
B.
Widharyanto
FKIP
– Program Studi PBSID, Universitas Sanata Dharma
ABSTRAK
Perspektif
pemberitaan ialah posisi pencerita yang dikaitkan dengan latar belakang nilai –
nilai keyakinan, pengetahuan, pandangan hidup penulis dalam melihat, memproses,
membuat, dan melaporkan suatu peristiwa dalam interaksi social. Perspektif
pemberitaan dalam suatu teks dapat berwujud uraian yang favorable, unvavorable,
atau netral terhadap objek.
- PENDAHULUAN
Renkema
( 1993 ) menjelaskan bahwa istilah perspektif digunakan untuk mendeskripsikan ihwal
sudut pandang. Sudut pandang yang dimaksudkan disini ialah posisi pencerita
yang dikaitkan dengan latar belakang nilai – nilai keyakinan, pengetahuan,
pandangan hidup penulis dalam melihat, memproses, membuat, dan melaporkan suatu
peristiwa dalam interaksi social. Keraf ( 1983 ) memberikan ilustrasi yang
menarik tentang fenomena perspektif ini. Dia mencontohkan bahwa suatu topic
mengenai masalah perburuhan dapat
dilihat dari perspektif sosialis atau liberal / kapitalis. Penulis yang
berpandangan sosialis akan melihat persoalan perburuhan dari segi para buruh
atau pekerja. Sebaliknya penulis berpandangan liberal / kapitalis akan mengkaji
persoalan perburuhan dari segi pemilik modal. Perbedaan prespektif di antara
dua penulis tersebut akan menghasilkan informasi yang berbeda.
Dalam
tulisan jurnalistik seperti berita, tajuk rencana, dan opini, fenomena
prespektif ini dapat berpotensi menjadi masalah yang cukup pelik apabila isi
tulisan dikaitkan dengan hak dan kepentingan para pembacanya yang heterogen.
Prespektif tertentu berpotensi bersifat afirmatif, positif, dan mendukung
kelompok pembaca tertentu dan sebaliknya bersifat negatif dan merugikan
kelompok pembaca yang lain. Demi kepentingan itu, tulisan jurnalistik hendaknya
dihasilkan dari proses kerja yang professional, sikap yang independen, dan
tidak beritikat buruk, serta berisi informasi yang akurat dan berimbang.
- KAJIAN PERSPEKTIF PEMBERITAAN
Prespektif
pemberitaan dalam suatu teks dapat berwujud uraian yang favorable, unfavorable,
atau netral terhadap objek berita. Prespektif yang seperti itu akan terlihat
dalam strategi penyajian informasi ( presentation of information ) dan bentuk –
bentuk ekspresi bahasa yang digunakan dalam tulisan berita ( Widharyanto, 2000
). Strategi penyajian informasi dibangun oleh wartawan melalui pemilihan tema
atau titik tolak pembicaraan, pemilihan judul, dan pengurutan informasi dalam
pola tertentu. Selanjutnya bentuk – bentuk ekspresi bahasa dibangun oleh
wartawan melalui piranti linguistic seperti struktur ketransitifan , struktur
leksikal, pilihan kata, struktur nominalisasi, pemakaian modalitas, tindak
tutur, metafora, dan pengaturan proposisi sebagai informasi lama dan baru.
Skema Kajian Perspektif Pemberitaan.
|
Prespektif
Pemberitaan
|
Alat
Pembentuk Prespektif
|
Piranti
Bahasa
|
|
Favorable,
unfavorable, atau netral
|
Strategi
Penyajian Informasi
|
|
|
Bentuk
Ekspresi Bahasa
|
|
- STRATEGI PENYAJIAN INFORMASI
Prespektif
dalam pemberitaan media massa dibangun oleh wartawan sejak pemilihan tema dalam
beritanya ( Widharyanto, 2000 ). Tema dalam hal ini pararel dengan apa yang
diistilahkan oleh Perfetti dan Goldman ( 1974 ) sebagai “ subjek sentral wacana
“. Selain pilihan tematik, prespektif pemberitaan juga dibangun melalui
pemilihan judul berita yang tepat. Brown dan Yule ( 1983 ) menyatakan bahwa
judul suatu wacana sebaiknya tidak disamakan dengan topic, tetapi sebaiknya
dipandang sebagai suatu ungkapan topic yang mungkin. Sebagai titik tolak
pemberian akan membawa konsekuensi pada masuknya informasi – informasi
tertentu, baik berupa keadaan, kejadian atau peristiwa, serta partisipan –
partisipan yang relevan dan tidak dimasukannya informasi – informasi lain yang
tidak relevan di dalam tulisan beritanya.
Selain
pilihan tematik, perspektif pemberitaan juga dibangun melalui pemilihan judul
berita yang tepat. Brown dan Yule ( 1983 ) menyatakan bahwa judul suatu wacana
sebaiknya tidak disamakan dengan topic. Sebagai ungkapan topic yang mungkin,
judul dalam hal ini berfungsi sebagai upaya tematisasi. Upaya tematisasi
melalui judul ini menjadi tritik tolak yang membatasi tafsiran makna dari
informasi – informasi yang dikembangkan dalam isi berita.
Prespektif
dalam pemberian semakin kuat diperlihatkan apabila wartawan juga memanfaatkan
linearitas sebagai piranti pembangun perspektivitas. Linearitas dalam hal ini
bermakna pengurutan informasi – informasi dalam suatu berita.
- Bentuk – bentuk Ekspresi Bahasa.
Prespektif
dalam produksi berita ternyata tidak hanya dapat diamati keberadaannya dalam
struktur wacana, tetapi juga dapat diamati dalam struktur yang lebih rendah
dari wacana., yakni paragraph atau gugus kalimat, kalimat dan kata.
- Sistem Ketransitifan
Sistem
ketransitifan menurut Halliday ( 1985 : 101 ) berkaitan dengan 3 hal, yakni
proses itu sendiri, seperti yang tercermin dalam verba pengisi fungsi
predikat., partisipan yang muncul berkaitan dengan proses tersebut, dan keadaan
yang berkaitan dengan proses maupun partisipan itu. Dalam hubungannya dengan strategi pemakaian
bahasa berita, ketransitifan sering dimanfaatkan oleh para wartawan untuk
membangun suatu interpretasi tertentu dari peristiwa – peristiwa yang akan
dilaporkan pada pembaca.
Apabila
dianalisis dengan kerangka kerja ketransitifan Halliday ( 1985 ), Fowler ( 1991
) dan McCarthy ( 1994 ), maka klausa – klausa yang dihasilkan para wartawan
dari berbagai surat kabar, seperti klausa 1- 6 berikut :
1.
Polisi menembak mati enam demonstran.
2.
Enam demonstran ditembak mati oleh
polisi.
3.
Enam demonstran tewas.
4.
“ enam demonstran tertembak mati “, ujar
saksi mata.
5.
Saksi mata melihat enam demonstran mati
tertembak.
6.
Enam mahasiswa yang tewas itu ialah
Elang Mulia ( … ).
Prespektif
dari suatu peristiwa dapat diperlihatkan dengan cara pemakaian variasi
ketransitifan, seperti verba yang memperlihatkan proses perbuatan atau proses
kejadian yang membawa pengaruh pada partisipan – partisipan seperti pelaku dan
tujuan.
Fowler
( 1991 ), MacCathy dan Carter ( 1994 ), Lee ( 1992 ), dan Widharyanto ( 2000 )
membuktikan bahwa masing – masing variasi bentuk ketransitifan memasukkan suatu
pandangan maupun sikap wartawan ( atau sikap institusinya ) yang berbeda
tentang peristiwa yang dilaporkan.
- Pilihan Kata
Pilihan
kata di dalam suatu teks menurut Fairclough ( 1989 ) menandai secara social
maupun secara ideologis bidang – bidang pengalaman yang berbeda dari
penulisnya, baik berupa nilai eksperiental, nilai relasional, dan nilai
ekspresif. Nilai eksperiental berkaitan dengan pengetahuan dan keyakinan yang
dibawakan oleh kata tersebut. Nilai relasional berkaitan dengan hubungan –
hubungan social yang tercipta oleh kata tersebut. Nilai ekspresif berkaitan
dengan penilaian atau evaluasi tentang sesuatu yang dicerminkan oleh kata
tersebut.
Dalam
penelitian Fowler ( 1991 ), kategorisasi kosa kata merupakan suatu bagian
integral reproduksi ideology dalam media massa. Pada waktu seorang wartawan
melaporkan suatu peristiwa actual yang terjadi disekitarnya dengan
menggunakan pilihan – pilihan kata yang
termasuk dalam wilayah “ taksonomi organisasi “ ideology tertentu, maka
wartawan tersebut telah memasukkan prespektif tertentu di dalam beritanya.
- Nominalisasi
Fowler
( 1991 ) menjelaskan bahwa nominalisasi ialah transformasi sintaksis secara
radikal dalam suatu klausa yang memiliki konsekuensi structural yang luas, dan
memberikan kesempatan ideologis yang besar. Dalam bahasa Indonesia, misalnya
secara struktur sangat dimungkinkan bahwa predikat yang berupa verba
direalisasikan secara sintaksis sebagai nomina. Contoh :
1.
Polisi menembaki para mahasiswa secara
membabi buta dalam insiden Semanggi.
2.
Penembakan secara membabi buta terjadi
dalam insiden Semanggi.
Pada
dua kalimat di atas terlihat bahwa kata menembaki pada ( 1 ) diderivasikan
menjadi penembakan pada ( 2 ). Efek dari
derivasi nominal seperti yang terlihat dalam ( 2 ) ialah banyak informasi yang
tidak terekspresikan.
- Modalitas
Modalitas
oleh Fowler ( 1986 : 1991 ) dimengerti sebagai komentar atau sikap yang berasal
dari teks, baik secara eksplisit atau implisit, diberikan oleh penulis terhadap
hal yang dilaporkan yakni keadaan, peristiwa, dan tindakan. Modalitas sebagai
komentar atau sikap dari penulis yang tertuang dalam teks dapat dibagi menjadi
4 jenis yaitu kebenaran, keharusan, izin dan keinginan.
Dengan
modalitas kebenaran, Fowler ( 1991 ) menyatakan bahwa seorang penulis
mengindikasikan atau menyatakan secara tidak langsung suatu komitmen pada
kebenaran dari suatu proposisi / makna yang diutarakannya, atau pada suatu
prediksi tingkat kemungkinan dari deskripsi suatu kejadian yang terjadi.
- Tindak Tutur
Bentuk
ekspresi bahasa yang dapat digunakan untuk menunjukkan perspektif ialah elemen
– elemen interpersornal seperti tindak tutur atau speech acts. Pandangan yang
mendasari ialah dalam berbahasa apabila kita mengatakan sesuatu, kita juga
melakukan sesuatu melalui tuturan itu. Tindak tutur ini di dalam laporan berita
banyak digunakan untuk mendeskripsikan dan mengilustrasikan suatu maksud
terselubung dari jurnalis atau partisipan dalam peristiwa yang dilaporkan oleh
jurnalis.
Dalam
kaitannya dengan politik dan ideology, maksud terselubung yang dilatarbelakangi
oleh sikap dan pandangan penulis dalam peristiwa yang dilaporkan oleh jurnalis,
sengaja disebarluaskan untuk mempengaruhi atau memperlokusi opini pembaca.
- Metafora
Metafora
menurut Aristoteles ( dalam Wahab, 1991 ) ialah ungkapan kebahasaan untuk
menyatakan hal bersifat umum untuk hal yang bersifat khusus dan sebaliknya.
Quintilian ( dalam Levin, 1977 ) dengan kriteria yang berbeda menyatakan bahwa
metafora ialah ungkapan kebahasaan untuk mengatakan sesuatu yang hidup untuk
sesuatu lainnya yang juga hidup.
Berbeda
dengan dua pendapat yang cenderung bersifat dikotomi, yakni umum khusus dan
hidup mati, Wahab ( 1991 ) mengartikan metafora sebagai ungkapan kebahasaan
yang maknanya tidak dapat dijangkau secara langsung dari lambang karena makna
yang dimaksud terdapat pada prediksi ungkapan kebahasaan itu.
Dalam
kaitannya dengan prespektif pemberitaan, metafora digunakan untuk menyatakan
sifat – sifat suatu hal untuk hal lain. Sifat – sifat itu dapat positif dapat
pula negative.
- Struktur Informasi
Bentuk
ekspresi bahasa yang juga dikaji dan dilihat dapat digunakan untuk
mengungkapkan prespektif ialah struktur informasi. Struktur informasi atau
organisasi isi proposisional dalam kalimat secara umum dapat dibagi atas
informasi lama ( latar given information ) atau informasi baru ( new information
). Informasi lama ialah informasi yang telah dimiliki atau ada dalam memori
pembaca. Menurut Halliday ( 1967 : 211 ) informasi lama “ dapat ditemukan
kembali secara anaforis atau situasional :. Informasi baru ialah informasi yang
belum diketahui oleh pembaca dan menurut Halliday ( 1967 : 204 ) informasi
tersebut “ tidak dapat ditemukan kembali dari wacana sebelumnya “.
Pengaturan
isi proposisi ke dalam informasi lama atau informasi baru dapat dimanipulasi
untuk kepentingan penulis dengan cara membangun praanggapan atau presupposition
yang berbeda dengan fakta sebenarnya.
- Penutup
Prespektif
pemberitaan seharusnya bersifat netral, artinya wartawan penulis berita hanya
memotret peristiwa yang dilihatnya dan didengarnya apa adanya tanpa menambah atau
mengurangi informasinya. Ada bahaya yang muncul apabila wartawan sudah
melakukan upaya menambah atau mengurangi informasi atau fakta. Bahaya itu
terkait dengan masalah objektifitas, keseimbangan tulisan, dan netralitas yang
dapat berakibat pada penempatan objek berita secara favorable atau unvaforable.
Apabila
terjadi, linguistic menyediakan piranti – piranti yang dapat digunakan untuk
mengungkap fenomena itu. Prespektif tertentu itu akan terlihat dalam strategi
penyajian informasi ( presentation of information ) dan bentuk – bentuk
ekspresi bahasa yang digunakan dalam tulisan berita ( Widharyanto, 2000 ).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar