Translate

Selasa, 01 April 2014

PENGALAMAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA BERBAGAI RANAH (RANAH AMERIKA DAN RANAH EROPA)



BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Manusia adalah makhluk sosio-budaya yang memperoleh perilakunya lewat belajar. Apa yang kita pelajari pada umumnya dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya. Dari semua aspek budaya manusia, komunikasi merupakan aspek yang terpenting dan paling mendasar. Kita belajar banyak hal lewat respons-respons komunikasi terhadap rangsangan dari lingkungan. Kita harus menyandi dan menyandi balik pesan-pesan dengan cara itu sehingga pesan-pesan tersebut akan dikenali, diterima, dan direspons oleh individu-individu yang berinteraksi dengan kita.
Di tengah keberagaman kehidupan manusia, khususnya budaya, keberagaman budaya terkadang membuat manusia menjadi menutup diri pada hal keragaman budaya yang ada di sekitarnya. Mereka sering berkelompok berdasarkan persamaan dan semakin mempertebal batas antar perbedaan. Sementara, orang-orang asyik dan sibuk berkelompok dengan dasar persamaan, zaman menuntut hal berbeda. Saat ini, zaman sudah memasuki era globalisasi yang batas-batas antar negara sudah mulai diabaikan. Hal ini menuntut kita untuk lebih terbuka pada budaya lain. Zaman sekarang ini, banyak tuntutan untuk bisa berinteraksi dengan budaya lain dan menyesuaikan diri dengan berbagai situasi di tengah tuntutan mobilitas yang semaik tinggi dan kita dituntut untuk terbuka pada segala budaya.
Namun hal tersebut di atas tidak sesuai dengan fakta yang menunjukkan bahwa setiap orang masih menganggap budayanya sendirilah yang paling baik, meskipun berada di lingkungan budaya lain. Hal ini menunjukkan bahwa belum ada rasa terbuka, menerima dan  nyaman dengan budaya lain bagi setiap orang. Lalu jika faktanya demikian, bagaimana orang bisa hidup di luar lingkungan budayanya? Maka perlu adanya komunikasi dan akulturasi.

2.      Rumusan Masalah
a.       Apa yang disebut komunikasi dan akulturasi?
b.      Apa variabel-variabel komunikasi dalam akulturasi?
c.       Bagaimana potensi akulturasi dapat terjadi?
d.      Bagaimana cara mempermudah akulturasi lewat komunikasi?

3.      Tujuan Penulisan
a.       Mahasiswa mampu memaparkan pengertian komunikasi dan akulturasi.
b.      Mahasiswa mampu memaparkan variabel-variabel komunikasi dalam akulturasi.
c.       Mahasiswa mampu memaparkan terjadinya potensi akulturasi.
d.      Mahasiswa mampu memaparkan cara mempermudah akulturasi lewat komunikasi.





























BAB II
PEMBAHASAN
1.      Pengertian Komunikasi dan Akulturasi
Komunikasi merupakan alat utama kita untuk memanfaatkan berbagai sumber daya lingkungan dalam pelayanan kemanusiaan. Lewat komunikasi kita menyesuaikan diri dan berhubungan dengan lingkungan kita, serta mendapatkan keanggotaan dan rasa memiliki dalam kelompok sosial yang mempengaruhi kita.
Pengertian komunikasi juga muncul dari berbagai para ahli yaitu Peterson, Jensen, dan Rivers (1965:16) yang menyatakan bahwakomunikasi adalah pembawa proses sosial. Ia adalah alat yang manusia miliki untuk mengatur, menstabilkan, dan memodifikasi kehidupan sosialnya. Proses sosial bergantung pada penghimpunan, pertukaran, dan penyampaian pengetahuan. Pada gilirannya pengetahuan bergantung pada komunikasi.
Dalam hal ini, kita dapat merumuskan budaya sebagai paduan pola-pola yang merefleksikan respons-respons komunikatif terhadap rangsangan dari lingkungan. Pola budaya ini merefleksikan elemen yang sama dalam perilaku komunikasi individual yang dilakukan mereka yang lahir dan diasuh dalam budaya itu. Le Vine (1973) menyatakan pikiran ini ketika ia mendefinisikan budaya sebagai seperangkat aturan terorganisasikan mengenai cara-cara yang dilakukan individu-individu dalam masyarakat berkomunikasi satu sama lain dan cara mereka berpikir tentang diri mereka dan lingkungan mereka.
Proses yang dilalui individu-individu untuk memperoleh aturan-aturan (budaya) komunikasi dimulai pada awal masa kehidupan. Proses belajar yang terinternalisasaikan ini memungkinkan kita untuk berinteraksi dengan anggota-anggota budaya lainnya yang juga memiliki pola-pola komunikasi serupa. Proses memperoleh pola-pola demikian oleh individu-individu disebut enkulturasi (Herskovits, 1996:24) atau istilah-istilah serupa lainnya seperti pelaziman budaya (cultural cionditioning) dan pemrograman (cultural programming).
Hubungan antara budaya dan individu, seperti yang terlihat pada proses enkulturasi, membangkitkan kemampuan manusia yang besar untuk menyesuaikan dirinya dengan keadaan. Proses enkulturasi juga terjadi pada imigran. Proses ini disebut dengan akulturasi (acculturation). Akulturasi merupakan suatu proses yang dilakukan imigran untuk menyesuaikan diri dengan dan memperoleh budaya pribumi, yang akhirnya mengarah kepada asimilasi. Asimilasi merupakan derajat tertinggi akulturasi yang secara teoritis mungkin terjadi. Bagi kebanyakan imigran, asimilasi mungkin merupakan tujuan sepanjang hidup.
Terdapat pula faktor yang berpengaruh atas perubahan yang terjadi pada diri imigran yaitu perbedaan antara jumlah individu dalam lingkungan baru yang berbagi kebudayaan asli imigran dan besarnya masyarakat pribumi. Proses komunikasi mendasari proses akulturasi seorang imigran. Akulturasi terjadi melalui identifikasi dan internalisasi lambang-lambang masyarakat pribumi yang signifikan.
Orang-orang pribumi memperoleh pola-pola budaya pribumi lewat komunikasi, seorang imigran memperoleh pola-pola budaya pribumi lewat komunikasi. Seorang imigran akan mengatur dirinya untuk mengetahui dan diketahui dalam berhubungan dengan orang lain, hal itu dilakukan lewat komunikasi.
Bila kita memandang akulturasi sebagai proses mengembangkan kecakapan berkomunikasi dalam sistem sosio-budaya pribumi, perlulah ditekankan fakta bahwa kecakapan berkomunikasi sedemikian diperoleh melalui pengalaman-pengalaman berkomunikasi. Kecakapan berkomunikasi yang telah diperoleh akan menentukan seluruh aspek akulturasi. Kecakapan ini terletak pada kemampuan imigran untuk mengontrol perilakunya dan lingkungan pribumi. Kecakapan imigran dalam berkomunikasi akan berfungsi sebagai seperangkat alat penyesuaian diri yang membantu imigran memenuhi kebutuhan dasarnya seperti kebutuhan akan kelangsungan hidup dan kebutuhan akan “rasa memiliki” dan “harga diri” (Maslow, 1970:47).
Oleh karena itu, proses akulturasi adalah suatu proses yang interaktif dan berkesinambungan yang berkembang dalam dan melalui komunikasi seorang imigran dengan lingkungan sosio-budaya yang baru. Kecakapan komunikasi yang diperolehnya, pada gilirannya menunjukkan derajat akulturasi imigran tersebut. Dengan memusatkan perhatian pada beberapa variabel komunikasi yang penting dalam proses akulturasi, kita dapat memperkirakan realitas akulturasi pada suatu saat tertentu dan juga meramalkan tahap akulturasi selanjutnya.



2.      Variabel-variabel komunikasi dalam akulturasi
Salah satu kerangka konseptual yang paling komprehensif dan bermanfaat dalam menganalisis akulturasi seorang imigran dari perspektif komunikasi terdapat pada perspektif sistem yang dielaborasi oleh Ruben (1975).Dalam perspektif sistem,unsur dasat suatu sistem komunikasi manusia adalah ketika orang secara aktif sedang berkomunikasi, berusaha untuk, dan mengharapkan berkomunikasi dengan lingkungan.Sebagai suatu sistem komunikasi tebuka, seseorang berinteraksi dengan lingkungan melalui dua proses yang saling berhubungan yakni komunikasi persona dan komunikasi sosial.
a.       Komunikasi Persona
Komunikasi persona (atau interpersona) mengacu kepada proses-proses mental yang dilakukan orang untuk mengatur dirinya sendiri dan dengan lingkungan sosial-budayanya, mengembangkan cara-cara melihat, mendengar, memahami, dan merespon lingkungan.”Komunikasi persona dapat dianggap sebagai merasakan, memahami, dan berperilaku terhadap objek-objek dan orang-orang dalam suatu lingkungan.Ia adalah proses yang dilakukan individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya”(Ruben, 1975:168-169).Dalam konteks akulturasi, komunikasi persona seorang imigran dapat dianggap sebagai pengatur pengalaman-pengalaman akulturasi ke dalam sejumlah pola respons kognitif dan afektif yang dapat diidentifikasi dan yang konsisten dengan budaya pribumi atau yang secara potensial memudahkan aspek-aspek akulturasi lainnya.
Salah satu variabel komunikasi persona terpenting dalam akulturasi adalah kompleksitas struktur kognitif imigran dalam mempersepsi lingkungan pribumi. Selama fase-fase awal akulturasi, persepsi seorang imigran atas lingkungan pribuminya relatif sederhana; persepsi imigran atas lingkungannya yang asing itu menunjukkan stereotip-stereotip kasar.Namun, setelah imigran mengetahui budaya pribumi lebih jauh, persepsinya menjadi lebih halus dan kompleks, memungkinkannya menemukan banyak variasi dalam lingkungan pribumi.
Faktor yang erat berhubungan dengan kompeksitas kognitif adalah pengetahuan imigran tentang pola-pola dan aturan-aturan sistem  komunikasi pribumi. Bukti empiris yang memadai menunjang fungsi penting pengetahuan tersebut (terutama pengetahuan tentang bahasa pribumi) dalam memudahkan aspek-aspek akulturasi lainnnya. Fungsi pengetahuan tentang sistem komunikasi pribumi terbukti penting dalam meningkatkan partisipasi seorang imigran dalam jaringan-jaringan komunikasi antarpesona dan komunikasi massa yang terdapat pada masyarakat pribumi (Breton, 1964; Chance, 1965; Richmond,1967; Kim,1970,1980).
Suatu variabel komunikasi persona lainnya dalam akulturasi adalah citra diri (self image) imigran yang berkaitan dengan citra-citranya tentang masyarakat pribumi dan budaya aslinya, misalnya, memberikan informasi berharga tentang realitas akulturasinya yang subjektif.Perasaan terasing, rendah diri, dan masalah-masalah psikologis lainnya yang diderita imigran cenderung berkaitan dengan jarak perseptual yang lebih besar antara diri dan anggota-anggota masyarakat pribumi (Kim, 1980).Motivasi akulturasi seorang imigran terbukti fungsional dalam memudahkan proses akulturasi. Motivasi akulturasi mengacu kepada kemauan imigran untuk belajar tentang, berpartisipasi dalam, dan diarahkan menuju sistem sosial-budaya pribumi. Orientasi positif yang dilakukan imigran terhadap lingkungan baru biasanya meningkatkan partisipasi dalam jaringan-jaringan komunikasi masyarakat pribumi (Kim, 1977).

b.      Komunikasi Sosial
Komunikasi persona berkaitan dengan komunikasi sosial ketika dua taua lebih individu berinteraksi, sengaja atau tidak. “Komunikasi adalah suatu proses yang mendasari intersubjektivisasi, suatu fenomena yang terjadi sebagai akibat simbolisasi publik dan penggunaan serta penyebaran simbol” (Ruben, 1975 : 171). Melalui komunikasi sosial individu-individu “menyetel” perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, dan perilaku-perilaku antara yang satu dengan yang lainnya. Komunikasi sosial dapat dikategorikan lebih jauh ke dalam komunikasi antarpesona dan komunikasi massa.Komunikasi antarpesona terjadi melalui hubungan-hubungan antarpesona, sedangkan komunikasi massa adalah suatu proses komunikasi sosial yang lebih umum, yang dilakukan individu-individu untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial-budayanya, tanpa terlihat dalam hubungan-hubungan antarpersona dengan individu-individu tertentu. Pengalaman-pengalaman komunikasi individu melalui media seperti radio, televisi, surat kabar, majalah, film, teater, dan bentuk-bentuk komunikasi serupa, dapat termasuk ke dalam kategori ini.
Komunikasi antapersona seorang imigran dapat diamati melalui derajat partisipasinya dalam hubungan-hubungan antarpersona dengan anggota-anggota masyarakat pribumi. Lebih khusus lagi, kita dapat menduga dan meramalkan akulturasi seorang imigran dari sifat jaringan-jaringan antarpersonanya.Seorang imigran yang terutama berhubungan dengan anggota-anggota masyarakat pribumi.
Fungsi akulturasi komunikasi massa bersifat terbatas dalam hubungannya dengan fungsi akulturasi komunikasi antarpersona (Kim, 1979a). Pengalaman-pengalaman komunikasi antarpersona imigran mempunyai pengaruh yang kuat dan terinci atas akulturasi imigran. Komunikasi yang melibatkan hubungan antarpersona memberi imigran umpan balik yang serempak, secara langsung mengontrol dan mengatur perilaku-perilaku komunikasi imigran.Meskipun dampak relatifnya terbatas pada akulturasi imigran, komunikasi massa memainkan suatu peranan yang penting dalam memperluas pengalaman-pengalaman imigran dalam masyarakat pribumi di luar lingkungan yang dapat dijangkaunya.Melalui komunikasi massa, seorang imigran mengetahui lebih jauh lagi tentang berbagai unsur dalam sistem sosio-budaya pribumi.Dari berbagai pengalaman komunikasi massa yang dialami imigran, pengalaman “menikmati” media berorientasi informasi seperti surat kabar, majalah, dan program-program informasi lainnya,telah terbukti fungsional bagi akulturasi bila dibandingkan dengan media lainnya yang berorientasi hiburan (Kim,1977).
Fungsi akulturasi komunikasi massa akan sangat penting pada fase awal proses akulturasi seorang imigran. Selama fase ini, imigran belum mengembangkan suatu kecakapan yang menandai untuk membina hubungan-hubungan antarpersona yang memuaskan dengan anggota-anggota masyarakat pribumi.Pengalaman-pengalaman komunikasi dengan kontak antarpersona secara langsung seringkali menimbulkan frustasi.Imigran boleh jadi merasa kikuk dan terasing dalam hubungan dengan orang-orang lain.Umpan balik negatif dari orang lain akan tak tertahankan bagi imigran yang ingin memperoleh rasa senang, dalam berinteraksi dengan anggota-anggota masyarakat pribumi.Imigran mungkin akan mengundurkan diri dari interaksi langsung dan kemudian terpaksa menggunakan media massa sebagai suatu alternatif saluran yang bebas dari tekanan yang memungkinkannya menyerap unsur-unsur lingkungan pribumi (Ryu, 1978).


c.       Lingkungan komunikasi
Suatu kondisi lingkungan yang sangat berpengaruh pada komunikasi dan akulturasi imigran adalah adanya komunitas etniknya di daerah setempat. Derajat pengaruh komunitas etnik atas perilaku imigran sangat bergantung pada derajat “kelengkapan kelembagaan” komunitas tersebut dan kekuatannya untuk memelihara budayanya yang khas bagi anggota-anggotanya (Taylor, 1979). Namun keterlibatan imigran yang ekstensif dalam komunitas etniknya tanpa komunikasi yang memadai dengan angota-anggotanya masyarakat pribumi mungkin akan mengurangi intensitas dan kecepatan akulturasi imigran (Broom dan Kitsuse, 1976). Dan pada akhirnya masyarakat pribumilah yang memberikan kebebasan atau keluwesan (Kim,1979).

3.      Potensi Akulturasi
Kemiripan antara budaya asli (imigran) dan budaya pribumi mungkin merupakan faktor terpenting yang menunjang potensi akulturasi. Seperti contohnya: seorang imigran dari Kanada ke Amerika Serikat, misalnya akan mempunyai potensi akulturasi yang lebih besar daripada seorang imigran Vietnam dari Asia Tenggara. Bahkan dua imigran dari budaya yang sama mungkin mempunyai latar belakang subkultural yang berbeda. Seorang subkultural dari kota metropolitan akan mempunyai potensi akulturasi yang lebih besar dari pada seorang petani dari suatu desa.
Faktor-faktor lain yang memperkuat potensi akulturasi adalah faktor kepribadian seperti suka berteman, toleransi mau mengambil resiko, keluwesan kognitif, keterbukaan dan sebagainya. Maka karakteristik kepribadian tersebut dapat membantu para imigran dalam suatu persepsi, perasaan, dan perilakunya yang memudahkan dalam lingkungan yang baru.

4.      Cara mempermudah akulturasi lewat komunikasi
Sejauh ini akulturasi imigran telah diuraikan dari prespektif komunikasi. Sebagaimana orang pribumi mengalami enkulturasi lewat komunikasi, maka seorang imigran terakulturasi ke dalam budaya pribumu lewat komunikasi pula. Proses akulturasi banyak berkenaan dengan usaha menyesuaikan diri, dan menerima pola-pola dan aturan-aturan komunikasi dominan yang ada pada masyarakat pribumi.
Potensi akulturasi seorang imigran sebelum berimigrasi dapat mempermudah akulturasi yang dialaminya dalam masyarakat pribumi. Seperti dibahas sebelumnya, potensi akulturasi ditentukan oleh faktor-faktor berikut,
a.       Kemiripan anatar budaya asli (imigran) dan budaya pribumi.
b.      Usia pada saat berimigrasi.
c.       Latar belakang pendidikan.
d.      Beberapa karakteristik kepribadian seperti suka bersahabat dan toleransi.
e.       Pengetahuan tentang budaya pribumi sebelum berimigrasi.
Begitu seorang imigran memasuki budaya pribumi, proses akulturasi mulai berlangsung. Proses akulturasi akan terus berlangsung selama imigran mengadakan kontak langsung dengan sistem sosio-budaya pribumi, semua kekuatan akulturatif-komunikasi persona dan sosial, lingkungan komunikasi, dan potensi akulturasi sebelum berimigrasi-secara interaktif mempengaruhi jalannya perubahan pada proses akulturasi imigran. Proses akulturasi mungkin tidak akan berjalan lurus dan mulus, tapi bergerak maju menuju asimilasi yang secara hipotesis merupakan asimilasi yang sempurna.
Perbedaan yang gencar antara kaum pendukung asimilasi dan kaum pendukung konservasi kesukuan telah kehilangan relevansi ilmiah bila kita secara saksama meneliti adaptasi manusia yang tak terelakkan terhadap lingkungan sosio-budaya mereka. Tidak ada seorang imigran pun, sejauh kehidupan atau kebutuhan-kebutuhan lainnya secara fungsional bergantung apad masyarakat pribumi, dapat sepenuhnya menghindarkan diri dari akulturasi. Maka dalam hal ini akulturasi adalah fenomena “alamiah”. Kontak langsung dan terus-menerus yang dilakukan imigran dengan suatu lingkungan sosio-budaya yang baru akan menimbulkan perubahan akulturasi. Adalah terlalu simpatik untuk memutuskan bahwa seseorang harus menjadi “A atau B”, memaksanya agar menerima atau menolak satu di antara dua posisi. Pada kenyataanya, kesukuanatau etnisitas dan akulturasi dapat dianggap dua sisi dari koin yang sama; keduanya saling berhubungan dan merupakanfenomena yang tak terpisahkan. Yang penting adalah bahwa baik kaum penganut asimilasi ataupun kaum penganut konservasi kesukuan mengakui adanya perubahan itu tidak mnyeluruh, maka tentu saja masih terdapat kesukuan dalam kadar tertentu.akulturasi yang tidak menyeluruh, bergantung pada pendapat orang, dapat ditafsirkan sebagai bukti adanya (sebagian) asimilasi atau (sebagian) etnisitas.
Untuk menunjang kecakapan komunikasi dalam budaya pribumi, imigran harus mengembangkan kecakapan kognitif, afektif, dan perilaku dalam berhubungan dengan lingkungan pribumi.Dengan mempelajari pola-pola dan aturan-aturan komunikasi pribumi dan dengan berpikiran terbuka, imigran menjadi toleran akan perbedaan-perbedan dan ketidakpastian situasi-situasi antarbudaya yang dihadapinya.
Namun imigran takkan dapat mencapai tujuan-tujuan akulturatifnya sendirian. Proses akulturasi adalah suatu proses interaktif “mendorong dan menarik” antara seorang imigran dan lingkungan pribumi. Tapi anggita-anggota masyarakat pribumi dapat mempermudah akulturasi imigran dengan menerima pelaziman (conditioning) budaya asli imigran, dengan memberikan situasi-situasi komunikasi yang mendukung kepada imigran, dan dengan menyediakan diri secara sabar untuk berkomunikasi antar budaya dengan imigran. Masyarakat pribumi dapat lebih aktif membantu akulturasi imigran dengan mengadakan program-program latihan komunikasi. Program-program latihan tersebut harus membantu imigran dalam memperoleh kecakapan komunikasi.
Komunikasi dapat menggabungkan kelompok-kelompok minoritas ke dalam suatu organisasi sosial yang akan memiliki gagasan-gagasan dan nilai-nilai bersama. Mendelson (1964).









BAB III
PENUTUP

·         Kesimpulan
Komunikasi merupakan alat utama kita untuk memanfaatkan berbagai sumber daya lingkungan dalam pelayanan kemanusiaan. Lewat komunikasi kita menyesuaikan diri dan berhubungan dengan lingkungan kita, serta mendapatkan keanggotaan dan rasa memiliki dalam kelompok sosial yang mempengaruhi kita. Sedangkan akulturasi merupakan suatu proses yang dilakukan imigran untuk menyesuaikan diri dengan dan memperoleh budaya pribumi, yang akhirnya mengarah kepada asimilasi.
Terdapat pula variabel-variabel dalam akuturasi, yaitu adanya komunikasi pesona, komunikasi sosial, dan lingkungan komunikasi. Variabel-variabel ini mempengaruhi terjadinya potensi akultuasi yang ditentukan oleh beberapa faktor yaitu kemiripan anatar budaya asli (imigran) dan budaya pribumi, usia pada saat berimigrasi, latar belakang pendidikan, beberapa karakteristik kepribadian seperti suka bersahabat dan toleransi, serta pengetahuan tentang budaya pribumi sebelum berimigrasi.
Cara mempermudah akulturasi lewat komunikasi dapat dilakukan dengan cara menyesuaikan diri dan menerima pola-pola dan aturan-aturan komunikasi dominan yang ada pada masyarakat pribumi.Selain itu diperlukan usaha untuk mengembangkan kecakapan kognitif, afektif, dan perilaku dalam berhubungan dengan lingkungan pribumi. Dengan mempelajari pola-pola dan aturan-aturan komunikasi pribumi dan dengan berpikiran terbuka, imigran menjadi toleran akan perbedaan-perbedan dan ketidakpastian situasi-situasi antarbudaya yang dihadapinya.








DAFTAR PUSTAKA
Mulyana, Dedy, dan Jalaluddin Rakhmat. 2010. Komunikasi Antarbudaya. Bandung: Penerbit Rosdakarya.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar